
Aroma kopi sangrai memenuhi ruang kantor Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Maju Bersama di Desa Singapure, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.
Di depan mesin roaster, Dwi Jayanti, 32 tahun, mengawasi biji-biji kopi yang perlahan berubah warna. Sesekali ia membuka penutup mesin, memeriksa tingkat kematangan, lalu kembali menunggu. Awal Agustus lalu, seperti hari-hari lainnya, pekerjaannya dimulai dengan menekan sakelar mesin sangrai.
Mesin itu dapat bekerja karena listrik dari pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS yang dibangun Pertamina pada 2024. Berkapasitas 2,2 kilowatt peak, listrik dari panel-panel surya tersebut digunakan untuk kantor desa, ruang PAUD, dan kegiatan BUMDes. Bagi Dwi, manfaatnya terasa ketika biji kopi hasil kebun warga bisa diolah sebelum dijual.
Baca: Sesudah Batu Bara: Dari Tambang Kembali ke Kebun (Bagian 1)

Sehari rata-rata, Dwi memproses sekitar lima kilogram kopi. Ketika musim panen mencapai puncaknya, jumlahnya bisa meningkat menjadi 10 hingga 15 kilogram.
Setiap kilogram kopi yang disangrai dikenai tarif Rp15 ribu, sedangkan dua kilogram sekaligus dikenai tarif Rp20 ribu. Pendapatan jasa sangrai masuk ke kas BUMDes, sebagian digunakan untuk biaya operasional dan membayar pekerja.
Kegiatan itu terlihat sederhana. Namun bagi sebuah desa yang mayoritas penduduknya petani kopi, mesin tersebut mengubah sedikit cara warga memperlakukan hasil kebun. Selama bertahun-tahun, kopi lebih banyak dijual dalam bentuk kering. Kini sebagian hasil panen dapat diolah lebih dahulu di desa.
Harga kopi robusta saat ini sekitar Rp60 ribu per kilogram. Mesin roaster memberi kesempatan bagi warga untuk memperoleh nilai tambah sebelum kopi meninggalkan Singapure. Listrik yang dihasilkan matahari menjadi bagian dari proses tersebut.
Namun mesin itu bekerja di sebuah desa yang belum seluruhnya menikmati jaringan PLN.
Baca: Sesudah Batu Bara: Kisah Perempuan Mengais Harapan dari Dasar Sungai Enim (Bagian 2)

Singapure berada di kawasan perbukitan dalam lanskap Bukit Barisan, sekitar delapan jam perjalanan dari Palembang. Desa ini berada di ketinggian lebih dari 750 mdpl (meter di atas permukaan laut).
Permukiman warga tersebar di lima kampung yang dipisahkan jalan menanjak, perkebunan kopi, dan bentang alam berbukit. Sekitar 190 kepala keluarga tinggal di desa tersebut.
Jaringan PLN masuk ke Singapure sejak 1997. Tetapi listrik hanya menjangkau Kampung 1, 2, dan 3. Kampung 4 dan 5 berada lebih jauh di kawasan perbukitan. Kampung 4 berjarak sekitar enam kilometer dari Kampung 3, sedangkan Kampung 5 sekitar 12 kilometer. Keduanya berada di kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Hutan Lindung Bukit Jambul Gunung Patah. Medan yang sulit dan permukiman yang terpencar membuat perluasan jaringan tidak mudah.
Warga tidak kemudian menunggu jaringan listrik datang.
Baca: Sesudah Batu Bara: Dwi dan Sungai Enim yang Berubah (Bagian 3)

Pada 2011, mereka memanfaatkan aliran Sungai Endikat untuk membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro atau PLTMH. Warga patungan sekitar Rp1 juta per keluarga untuk membeli komponen pembangkit. Masing-masing pembangkit melayani sekitar 25 rumah dan digunakan terutama untuk penerangan. Untuk perawatan, warga membayar iuran Rp10 ribu per bulan.
“Bagi keluarga petani, sejumlah uang iuran itu cukup membantu jika dibandingkan beli bensin genset setiap hari,” kata Padli, warga Desa Singapure.
Kepala Desa Singapure, Arsito Hasan, masih mengingat masa ketika pembangkit itu dibangun.
“Pada 2011, mikrohidro pertama dibangun di Kampung 4 dan 5. Ini murni inisiatif warga,” katanya.
Mikrohidro memberi warga pengalaman bahwa sumber energi di sekitar mereka dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
Lalu, setelah lebih dari satu dekade kemudian, sumber energi lain datang ke Singapure.
Kali ini dari matahari.
Baca: Belida, Sungai, dan Kolam Harapan di Sungai Gerong

Pada 2024, Pertamina membangun PLTS berkapasitas 2,2 kilowatt peak di kawasan BUMDes Kampung 3. Kehadirannya membawa gagasan yang sedikit berbeda dari mikrohidro yang lebih dulu dibangun warga. Jika pembangkit dari Sungai Endikat terutama digunakan untuk menerangi rumah, listrik dari PLTS mulai diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi.
Siti Fauzia, Area Manager Communication, Relation & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit III Plaju, mengatakan program di Singapure memang diarahkan agar energi memiliki turunan kegiatan ekonomi.
“Gagasannya adalah membangun mata rantai, bahwa energi menopang fasilitas dasar, fasilitas mendukung kegiatan ekonomi, dan kegiatan ekonomi menghasilkan manfaat yang kembali kepada masyarakat,” kata Fauzia.
Kopi menjadi salah satu titik masuknya.
Bagi warga Singapure, pilihan itu cukup masuk akal. Kopi bukan komoditas yang baru diperkenalkan melalui program. Tanaman tersebut sudah lama menjadi sumber penghidupan warga. Yang hendak diubah adalah cara hasilnya diolah dan dijual.
Dwi kemudian menjadi bagian dari perubahan kecil tersebut. Ia mengoperasikan mesin roaster di BUMDes dan mengolah kopi warga. Di ruangan itu, listrik tidak lagi sekadar membuat lampu menyala. Energi matahari mulai masuk ke dalam rantai produksi.
Tetapi Arsito melihat persoalan desa lebih jauh daripada mesin dan kopi.
Ada anak-anak muda yang perlahan meninggalkan Singapure.
Menurut Arsito, banyak pemuda merantau sejak SMA. Sebagian pergi untuk melanjutkan pendidikan, terutama kuliah, lalu bekerja di kota. Yang tinggal di desa dan menjadi petani lebih banyak warga berusia paruh baya, meski masih ada sebagian pemuda yang bertahan.
“Anak-anak muda kita banyak yang merantau karena pendidikan. Dari SMA sudah banyak yang keluar, apalagi kuliah dan kerja,” kata Arsito.
Baca: Sumsel dalam Kepungan Asap

Arsito tidak menganggap merantau sebagai sesuatu yang harus dicegah. Pendidikan tetap penting bagi anak-anak desa. Yang ia pikirkan adalah apa yang terjadi setelah mereka memperoleh pendidikan dan pengalaman di kota: apakah mereka akan memiliki alasan untuk kembali?
Pertanyaan itu membuat fungsi listrik di Singapure menjadi lebih luas. Jika energi hanya digunakan untuk penerangan, manfaatnya berhenti pada rumah atau fasilitas yang diterangi.
“Tetapi jika listrik dapat membantu mengolah kopi dan menggerakkan usaha, ia berpotensi menjadi bagian dari kegiatan ekonomi.”
Karena itu, Arsito berharap PLTS dan mikrohidro tidak berhenti sebagai pembangkit listrik. Keduanya diharapkan ikut menciptakan pekerjaan dan membuka ruang bagi anak muda untuk berkarya di desa.
“Kalau ada usaha, ada penghasilan, anak-anak muda bisa punya pilihan untuk bekerja di desa,” ujarnya.
Harapan itu kemudian diuji melalui BUMDes.
Tidak jauh dari tempat Dwi mengoperasikan mesin roaster, pengelola desa mencoba mengembangkan usaha lain: budidaya puyuh dan ikan. Empat pemuda, yaitu Aldi, Ical, Akbar, dan Astra ditunjuk mengelolanya. Mereka tamatan SMP dan SMA dan, berbeda dengan banyak teman sebayanya, belum merantau.
Baca: Kisah Evakuasi Harimau Sumatera Bernama Enim

Setiap hari mereka memberi makan ikan, memeriksa kolam, membersihkan kandang, dan merawat puyuh. Pada awal 2026, sekitar 500 ekor puyuh menghasilkan hingga lima kilogram telur sehari. Telur dijual sekitar Rp50 ribu per kilogram atau sekitar Rp40 ribu jika diborong.
Nilai produksinya memang belum besar. Namun yang dicari dari usaha itu bukan semata-mata jumlah telur atau ikan yang dihasilkan. Ada empat pemuda yang mendapatkan pekerjaan di desa, memperoleh pengalaman mengelola usaha, dan memiliki kemungkinan memperoleh penghasilan tanpa harus pergi dari kampung.
Di satu sisi, Dwi mengolah kopi dengan mesin yang ditenagai matahari. Di sisi lain, empat pemuda mencoba membangun usaha dari kandang puyuh dan kolam ikan. Keduanya tumbuh dari gagasan yang sama: listrik tidak berhenti sebagai penerangan, tetapi dipakai untuk menghasilkan sesuatu.
Bagi Arsito, di situlah harapan terhadap energi terbarukan bertemu dengan persoalan anak muda.
“Desa tidak hanya membutuhkan listrik, tetapi juga kegiatan yang membuat listrik itu berguna bagi kehidupan ekonomi masyarakat,” tutur Arsito.
Dan untuk sementara, Singapure memiliki dua pengalaman tentang kemungkinan tersebut: biji kopi yang berubah menjadi lebih bernilai di dalam mesin roaster dan anak-anak muda yang mencoba mencari penghasilan tanpa meninggalkan kampung.
Di atas bukit itu, matahari telah berhasil diubah menjadi listrik.
Kini warga sedang mencoba mengubah listrik menjadi pekerjaan. Dan dari pekerjaan itu, mereka berharap anak-anak muda memiliki alasan untuk tetap tinggal di kampung halaman.
***
Ahmad Supardi, SustainergyID
Liputan ini didukung oleh Yayasan Indonesia Cerah dan AJI Palembang.






Tinggalkan komentar