
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan tidak hanya mengancam tutupan hutan, tetapi juga habitat satwa endemik dan langka. Hilangnya habitat, sumber makanan, dan air akibat kebakaran dapat memicu kematian satwa, fragmentasi habitat, hingga konflik dengan manusia.
Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Dr Abdul Haris Mustari, mengatakan karhutla di Sumatra dan Kalimantan tidak terlepas dari aktivitas manusia, baik yang dilakukan korporasi maupun perorangan.
Menurut Mustari, kebakaran yang terjadi berulang setiap tahun menunjukkan bahwa persoalan karhutla bukan semata-mata fenomena alam.
“Pola kebakaran tersebut berulang setiap tahun, sementara upaya pencegahan cenderung belum dilakukan secara optimal,” kata Mustari pada Selasa, 1 September 2026.
Ia menilai respons pemerintah dan masyarakat sering kali baru menguat setelah kebakaran meluas. Kondisi itu membuat penanganan semakin sulit dan dampaknya menjadi lebih besar.
Karhutla dapat melanda berbagai ekosistem, mulai dari areal perkebunan dan hutan sekunder hingga hutan primer yang menjadi habitat penting satwa liar.
Sejumlah satwa seperti orang utan, bekantan, macan dahan, rangkong, kuau raja, kucing emas, gajah, harimau, dan tapir termasuk yang dapat terdampak kebakaran.
“Kerusakan habitat tersebut menjadi ancaman serius bagi keanekaragaman hayati karena fungsi ekologis ekosistem dapat hilang dalam waktu singkat,” ujarnya.

Satwa Kehilangan Habitat
Mustari mengatakan ancaman paling langsung dari karhutla adalah kematian satwa akibat terbakar. Satwa yang berhasil menyelamatkan diri pun belum tentu aman karena kehilangan habitat, sumber makanan, dan air.
Dalam kondisi tersebut, satwa dapat berpindah ke habitat sementara, termasuk hutan sekunder atau kawasan yang berbatasan dengan perkebunan dan permukiman.
Perpindahan ini berpotensi meningkatkan konflik antara satwa dan manusia.
“Pada akhirnya satwalah yang selalu menjadi korban dan disalahkan. Padahal, keluarnya satwa dari habitatnya terjadi karena habitatnya dirusak dan dibakar oleh manusia,” kata Mustari.
Menurut dia, dampak karhutla terhadap ekosistem juga tidak selesai ketika api berhasil dipadamkan. Pemulihan ekosistem tidak cukup hanya dilihat dari tumbuhnya kembali vegetasi.
Jaring dan rantai makanan yang rusak membutuhkan waktu panjang untuk pulih. Dalam kondisi tertentu, proses tersebut bahkan dapat berlangsung hingga ratusan tahun dan belum tentu kembali seperti kondisi sebelum kebakaran.
Karena itu, Mustari mendorong penguatan pencegahan karhutla, penegakan hukum tanpa pandang bulu, serta perlindungan dan perluasan habitat penting bagi satwa.
Kawasan konservasi seperti taman nasional, cagar alam, dan suaka margasatwa, kata dia, perlu diperkuat untuk menjaga habitat satwa dan mempertahankan fungsi ekologisnya.
“Lebih baik mencegah daripada bereaksi dan panik saat terjadi kebakaran hutan dan lahan,” tegasnya.
Ia menambahkan, penyadartahuan publik mengenai karhutla juga perlu diperkuat. Dampak kebakaran tidak hanya dirasakan satwa liar, tetapi juga manusia, terutama melalui penurunan kualitas udara serta gangguan terhadap ketersediaan pangan dan air.
***
Ahmad Supardi, SustainergyID




Tinggalkan komentar