
Baca sebelumnya: Energi Hijau: Ketika Listrik Tak Cukup di Singapure (Bagian 1)
Beberapa meter dari tempat Dwi Jayanti mengoperasikan mesin roaster kopi, kandang puyuh dan kolam ikan pernah menjadi tempat empat pemuda Desa Singapure bekerja setiap hari.
Aldi, Ical, Akbar, dan Astra mengelola usaha itu melalui Badan Usaha Milik Desa Maju Bersama. Mereka tamatan SMP dan SMA. Ketika banyak teman sebaya memilih pergi untuk sekolah atau bekerja di kota, keempatnya masih bertahan di Singapure.
Setiap pagi mereka memberi makan ikan, memeriksa kolam, membersihkan kandang, dan merawat puyuh. Pada awal 2026, sekitar 500 ekor puyuh menghasilkan hingga lima kilogram telur sehari. Telur itu dijual sekitar Rp50 ribu per kilogram atau Rp40 ribu jika dibeli secara borongan.
Pada awal tahun ini, usaha itu sempat berjalan. Namun beberapa bulan kemudian, kegiatan tersebut berhenti.
Bukan karena listrik tidak tersedia. Persoalannya justru air.
“Tempat ini susah air. Puyuh dan ikan akhirnya kekurangan air,” kata Ical, 26 tahun, salah satu pemuda pengelola BUMDes Singapure.
Kompleks BUMDes, kantor desa, PAUD, kandang puyuh, dan kolam ikan berada di atas bukit Dusun 3. Sumber air berada di lembah, jauh di bawah kompleks tersebut. Pengurus BUMDes harus mengambil air dari sekitar posyandu yang berjarak sekitar 100 meter. Jalan menurun dan menanjak membuat pekerjaan itu tidak mudah. Untuk mengisi tandon saja diperlukan tenaga tambahan.
Baca: Sesudah Batu Bara: Dari Tambang Kembali ke Kebun (Bagian 1)

Persoalannya lebih rumit pada kolam ikan. Di sana terdapat tiga kolam bioflok. Satu kolam membutuhkan sekitar 9.000 liter air dan perlu diganti sekitar dua pekan sekali karena warna dan kualitasnya berubah. Perubahan pH kemudian mengganggu budidaya.
“Untuk budidaya ikan, persoalannya lebih rumit,” kata Ical.
Ketika kemarau makin panas, ikan banyak stres dan keracunan sisa pakannya sendiri. Banyak yang mati dan usaha terhenti. Puyuh menghadapi persoalan lain yang masih berkaitan dengan kondisi tempat. Suhu dan perubahan cuaca di kawasan perbukitan membuat ternak mudah stres.
Baca: Sesudah Batu Bara: Kisah Perempuan Mengais Harapan dari Dasar Sungai Enim (Bagian 2)

Arsito Hasan, Kepala Desa Singapure, berharap pendampingan tidak berhenti setelah fasilitas dibangun. Salah satu kebutuhan yang dianggap mendesak adalah sumber air baru, termasuk kemungkinan pembangunan sumur.
Usaha yang semula diharapkan menjadi ruang kerja bagi anak muda itu akhirnya macet. Masa produksi berhenti sebelum berkembang menjadi usaha yang mapan.
Bagi empat pemuda yang mengelolanya, perubahan itu berarti hilangnya satu pilihan pekerjaan di desa. Mereka kembali menentukan jalan masing-masing. Dua memilih bertahan di Singapure dan merawat kebun kopi. Dua lainnya merantau.
Sesekali Ical masih mendatangi kandang puyuh dan kolam ikan yang sudah tidak beroperasi. Ia tidak lagi datang untuk menjalankan usaha itu, melainkan memastikan bangunan dan fasilitasnya tidak rusak.
Ia kembali ke kebun kopi.
“Kebun kopi menjadi tempat bekerja yang paling dekat dan paling saya kenal,” kata Ical.
Kebun itu menjadi pilihan ketika usaha baru tidak berjalan. Di sana ia kembali bekerja, seperti banyak warga Singapure lainnya.
Usaha itu berhenti sebelum berkembang menjadi pekerjaan tetap bagi anak muda yang mengelolanya.
Beberapa kilometer dari sana, warga Kampung 5 menghadapi persoalan yang berbeda. Mereka pernah memiliki listrik dari mikrohidro. Kini pembangkit itu tidak lagi bekerja.
Baca: Sesudah Batu Bara: Dwi dan Sungai Enim yang Berubah (Bagian 3)

Mikrohidro yang Berhenti
Kampung 5 berada sekitar 12 kilometer dari Kampung 3. Jauh dari jaringan PLN, warga di kampung itu sejak 2011 memanfaatkan aliran Sungai Endikat untuk membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro.
Pembangkit tersebut merupakan hasil patungan warga. Mereka mengumpulkan sekitar Rp1 juta per keluarga untuk membeli komponen. Setiap pembangkit melayani sekitar 25 rumah dan digunakan terutama untuk penerangan. Warga membayar iuran Rp10 ribu per bulan untuk biaya perawatan.
Belasan tahun kemudian, pembangkit di Kampung 5 tidak lagi bekerja.
Di Kampung 4, mikrohidro masih dapat digunakan setelah mendapat dukungan peremajaan instalasi dari Pertamina. Di Kampung 5, kondisinya berbeda. Usia pembangkit dan arus air membuat sejumlah komponennya tidak lagi berfungsi. Kemampuan warga untuk memperbaikinya juga terbatas.
Malam hari, warga kembali mengandalkan genset.
Kepala Dusun Kampung 5, Hamdani, mengatakan penggunaan genset membuat biaya penerangan kembali bergantung pada bahan bakar.
“Sumber penerangan kami saat malam hanya mesin genset. Sangat boros karena kami harus terus membeli solar atau bensin,” katanya.
Kondisi itu terasa janggal. Sumber energi yang dulu digunakan warga sebenarnya masih ada.
“Sumber airnya masih ada. Sungai Endikat masih mengalir,” kata Hamdani.
Yang tidak lagi bekerja adalah pembangkit yang mengubah aliran sungai menjadi listrik.
Warga berharap Kampung 5 kembali mendapatkan bantuan untuk pembangunan atau perbaikan mikrohidro. Bagi Hamdani, pembangkit juga membutuhkan perhatian setelah selesai dibangun.
“Agar listrik bertahan, warga membutuhkan pengetahuan teknis, suku cadang, biaya perawatan, dan pendampingan,” katanya.
Sungai Endikat tidak berhenti mengalir. Yang terhenti adalah pembangkit yang mengubah aliran itu menjadi listrik.
Di Dusun 3, persoalannya berbeda. Listrik tersedia, tetapi usaha yang hendak memanfaatkannya berhadapan dengan keterbatasan air.
Dua persoalan itu berlangsung di desa yang sama. Yang satu memiliki listrik tetapi kesulitan menjalankan usaha. Yang lain memiliki sumber air tetapi kehilangan pembangkitnya.
Baca: Sesudah Batu Bara: Dwi dan Sungai Enim yang Berubah (Bagian 3)

Yang Berada di Balik Pembangkit
Bagi Dwiki Mahendra dari Yayasan Cerah, pengalaman seperti itu membuat pembicaraan tentang transisi energi tidak cukup berhenti pada pembangunan pembangkit.
“Transisi energi yang ideal dan menyeluruh harus berdiri di atas empat prinsip keadilan, yaitu pembagian manfaat yang adil, keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan, perhatian terhadap kelompok yang rentan, serta pemulihan bagi masyarakat yang terdampak,” kata Dwiki.
Di Singapure, persoalan itu terlihat dalam dua pengalaman. PLTS membantu BUMDes mengoperasikan mesin roaster kopi. Usaha ikan dan puyuh berhenti karena persoalan air. Mikrohidro di Kampung 5 pernah memberi penerangan kepada warga, tetapi kemudian berhenti ketika komponennya rusak dan kemampuan perawatan terbatas.
Sylvi Sabrina, peneliti Divisi Keadilan Iklim dan Dekarbonisasi ICEL, melihat perubahan menuju energi terbarukan sebagai proses yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
“Karena itu, perubahan menuju energi terbarukan perlu melihat kondisi masyarakat secara menyeluruh,” ujarnya.
Di Singapure, persoalan energi bertemu dengan letak permukiman, ketersediaan air, kemampuan teknis warga, jenis pekerjaan, hingga keputusan anak muda untuk tinggal atau pergi.
Baca: Kisah Evakuasi Harimau Sumatera Bernama Enim

Ketika Anak Muda Kembali Memilih
Setelah usaha puyuh dan ikan berhenti, dua pemuda tetap berada di Singapure dan merawat kebun kopi. Dua lainnya pergi merantau.
Ical termasuk yang memilih bertahan.
Ia kembali mengerjakan sesuatu yang sudah dikenal sejak lama. Kebun kopi tidak membutuhkan mesin roaster untuk membuatnya mulai bekerja. Ia juga tidak bergantung pada pasokan air sebanyak kolam bioflok.
Di Desa Singapure, anak muda sempat mendapat ruang untuk mencoba kegiatan ekonomi baru. Namun usaha itu tidak bertahan ketika berhadapan dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung.
“Kebun kopi menjadi tempat bekerja yang paling dekat dan paling saya kenal,” kata Ical.
Di tempat Dwi bekerja, mesin roaster tetap berjalan. Biji kopi yang sebelumnya dijual dalam bentuk kering dapat diolah di desa. Energi matahari membantu menjalankan proses tersebut.
Dwi masih mengolah kopi. Ical kembali ke kebun.
Di Kampung 5, warga masih berharap mikrohidro dapat hidup kembali.
(Selesai)
***
Ahmad Supardi, SustainergyID
Liputan ini didukung oleh Yayasan Indonesia Cerah dan AJI Palembang.





Tinggalkan komentar