Gempa Flores bahkan membuat air laut di Labuanbajo mengering. Foto: armadaberita

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 (Mw) mengguncang wilayah utara Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026. Episentrum gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Gempa menimbulkan kerusakan di sejumlah wilayah dan puluhan korban jiwa.

Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan setelah gempa terjadi. Namun, peringatan tersebut kemudian diakhiri setelah hasil pemantauan menunjukkan tsunami yang relatif kecil.

Peristiwa itu mengingatkan pada gempa Flores pada 12 Desember 1992. Dengan magnitudo yang hampir sama, yakni sekitar Mw 7,7–7,8, gempa tersebut memicu tsunami destruktif. Di Riangkroko, ujung timur laut Flores, tsunami tercatat memiliki run-up hingga 26,2 meter dan menewaskan ribuan orang.

“Peristiwa tersebut segera mengingatkan kita pada gempa Flores 12 Desember 1992. Magnitudonya hampir sama, sekitar Mw 7,7–7,8, tetapi tsunami yang menyertainya sangat destruktif. Di Riangkroko, ujung timur laut Flores, tercatat run-up hingga 26,2 meter dan menimbulkan ribuan korban jiwa,” ujar periset Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widjo Kongko, Jumat (21/8).

Menurut Widjo, kesamaan magnitudo kedua gempa tidak serta-merta menghasilkan tsunami dengan kekuatan yang sama. Faktor yang menentukan bukan hanya energi gempa, tetapi juga bagaimana dasar laut bergerak ketika patahan mengalami rupture.

“Tsunami terjadi ketika perpindahan dasar laut mengganggu kolom air di atasnya. Karena itu, lokasi sumber, mekanisme patahan, arah dan besarnya slip, kedalaman, serta bentuk dasar laut dan pantai ikut menentukan besar kecilnya tsunami,” katanya.

Flores berada di kawasan Flores Back-Arc Thrust, zona tektonik aktif yang terbentuk akibat interaksi Lempeng Australia dan Eurasia. Pada 1992, sumber gempa berada sangat dekat dengan pantai sehingga deformasi dasar laut yang ditimbulkannya efektif membangkitkan tsunami.

Namun, ada persoalan lain yang menarik perhatian peneliti. Model tsunami yang hanya memperhitungkan deformasi akibat patahan dapat menjelaskan sebagian besar hasil pengamatan pada 1992, tetapi tidak mampu mereproduksi run-up ekstrem hingga 26,2 meter di Riangkroko.

“Di sinilah dugaan mengenai longsoran bawah laut yang dipicu gempa menjadi penting. Penelitian terdahulu menunjukkan adanya indikasi longsoran di beberapa lokasi dan memperlihatkan bahwa kombinasi deformasi tektonik, longsoran, serta kondisi batimetri yang curam dapat memperkuat tsunami secara lokal,” ujar Widjo.

Menurut dia, angka 26,2 meter di Riangkroko karena itu tidak seharusnya dianggap semata-mata sebagai akibat langsung dari magnitudo gempa.

BRIN Analisis Gempa Flores 1992 dan 2026, Magnitudo Serupa, Potensi Tsunami Berbeda. Foto: BRIN

Bagaimana dengan Gempa 2026?

Meski kembali mencapai Mw 7,7, tsunami yang menyertai gempa Flores 2026 relatif kecil berdasarkan hasil pemodelan awal.

Pemodelan sumber gempa menggunakan finite-fault model dari United States Geological Survey (USGS), yang menggambarkan sumber gempa dan bidang sesar secara lebih rinci. Perambatan gelombang tsunami kemudian dimodelkan menggunakan Model TUN3-BRIN untuk melihat bagaimana gelombang bergerak dari sumber menuju pantai.

Meski demikian, di sejumlah lokasi tinggi tsunami yang teramati masih lebih besar dibandingkan hasil simulasi.

“Perbedaan ini menarik untuk dikaji lebih lanjut, terutama setelah data sumber gempa, batimetri atau kedalaman laut, dan rekaman perubahan muka laut semakin lengkap,” kata Widjo.

Ia juga mengingatkan agar angka tsunami dari kedua kejadian tidak dibandingkan secara langsung.

“Perlu hati-hati membandingkan angka tsunami kedua kejadian. 26,2 meter pada 1992 adalah run-up yang diukur di daratan, sedangkan sekitar 1,6 meter pada 2026 merupakan tinggi tsunami yang terukur pada lokasi pemantauan. Keduanya bukan besaran yang persis sama,” ujarnya.

Meski berbeda secara metode pengukuran, perbedaan tersebut tetap menunjukkan bahwa respons tsunami pada kedua kejadian sangat berbeda.

Bagi Widjo, peristiwa 2026 bukan tanda bahwa ancaman tsunami di Flores telah berkurang. Sebaliknya, gempa tersebut kembali menunjukkan bahwa sistem Flores Back-Arc Thrust masih aktif dan mampu menghasilkan gempa besar.

Pengalaman 1992 juga menunjukkan bahwa tsunami lokal dapat tiba di pantai hanya dalam hitungan menit. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat pesisir tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu peringatan resmi.

Karena itu, setelah merasakan gempa kuat atau guncangan yang berlangsung cukup lama di wilayah pantai, masyarakat disarankan segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi tanpa menunggu sirene atau peringatan berikutnya.

“Gempa Flores 1992 dan 2026 memberikan pelajaran yang sederhana tetapi penting. Magnitudo yang hampir sama tidak berarti ancaman tsunaminya sama. Yang menentukan adalah bagaimana gempa menggerakkan dasar laut, bagaimana gelombang merambat, dan bagaimana pantai meresponsnya. Memahami proses tersebut adalah bagian penting dari upaya mengurangi risiko bencana di NTT,” pungkas Widjo.

***

Ahmad Supardi, SustainergyID

Tinggalkan komentar

Sedang Tren