
Pernah kepikiran, listrik di rumah kita sebenarnya berasal dari mana?
Saat lampu dinyalakan, listrik tidak muncul begitu saja dari stopkontak. Sebelumnya, energi harus diubah menjadi listrik di pembangkit, lalu dikirim melalui jaringan sampai ke rumah.
Nah, sumber energinya bisa berbeda.
Dari fosil
Di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), misalnya, batu bara dibakar untuk menghasilkan panas. Panas mendidihkan air, menghasilkan uap, lalu uap memutar turbin. Turbin memutar generator dan jadilah listrik.
Batu bara → panas → uap → turbin → generator → listrik.
Masalahnya? Pembakaran batu bara menghasilkan emisi karbon dan polutan. Selain itu, batu bara adalah sumber daya yang terbatas.

Dari energi terbarukan
Cara menghasilkan listriknya bisa berbeda-beda.
Matahari: panel surya mengubah cahaya matahari menjadi listrik melalui efek fotovoltaik.
Air: aliran air memutar turbin, lalu generator menghasilkan listrik.
Angin: angin memutar bilah turbin dan generator.
Panas bumi: panas dari dalam bumi menghasilkan uap atau fluida panas yang dapat menggerakkan turbin.
Jadi, tidak semua energi terbarukan bekerja dengan cara yang sama.
Lalu bagaimana listriknya sampai ke rumah?
Setelah dibuat di pembangkit, listrik masuk ke jaringan.
Pembangkit → gardu → transmisi → distribusi → kWh meter → rumah.
Tegangan listrik dinaikkan terlebih dahulu agar dapat dikirim jauh dengan kehilangan energi yang lebih kecil. Mendekati rumah, tegangannya diturunkan lagi.
Jadi listrik rumah kita listrik fosil atau hijau?
Kalau rumah terhubung ke jaringan listrik umum, jawabannya: bisa berasal dari campuran berbagai pembangkit.
Listrik dari batu bara, gas, air, panas bumi, surya, dan sumber lainnya masuk ke sistem jaringan.
Jadi, listrik di stopkontak kita tidak punya label:
“Ini dari batu bara.” atau “Ini dari matahari.”
Yang bisa kita lihat adalah bauran energi dalam sistem listrik.
Di Indonesia, bauran energi terbarukan pada 2025 mencapai 15,75 persen secara nasional, sedangkan khusus sektor ketenagalistrikan sekitar 16,25 persen. Artinya, sumber energi fosil masih menjadi bagian terbesar dalam sistem energi listrik Indonesia.
Artinya, saat kita menyalakan lampu, sebenarnya kita sedang terhubung dengan sebuah sistem energi yang jauh lebih besar daripada rumah kita.
Satu sakelar. Satu lampu. Tapi di belakangnya ada pembangkit, jaringan, bahan bakar, teknologi, kebijakan, dan lingkungan.
Jadi, pertanyaan berikutnya bukan cuma:
“Dari mana listrik kita berasal?”
Tetapi juga:
“Kalau listrik kita ingin lebih bersih, apa yang harus berubah?”
Referensi:
- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Capaian Positif Tahun 2025 Negara Hadir Penuhi Kebutuhan Energi Masyarakat. https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/capaian-positif-tahun-2025-negara-hadir-penuhi-kebutuhan-energi-masyarakat
- Kementerian ESDM, Pacu Bauran EBT, Pemerintah Perkuat Ketahanan Energi Nasional. https://ebtke.esdm.go.id/artikel/berita/pacu-bauran-ebt-pemerintah-perkuat-ketahanan-energi-nasional
***
Ahmad Supardi, SustainergyID





Tinggalkan komentar