Varietas Yalanda IPB dan Nabila IPB adalah varietas pertama okra bersari bebas yang dilepas di Indonesia. Foto: IPB

Setelah sukses merakit lebih dari 30 varietas cabai unggul, peneliti IPB University, Prof. Muhamad Syukur, kembali menghadirkan inovasi di bidang pangan sehat. Kali ini, ia mendaftarkan dua varietas unggul okra (bamia) lokal untuk memperoleh Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) di Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Kedua varietas tersebut diberi nama Yalanda IPB dan Nabila IPB. Menurut Prof. Syukur, masing-masing nama dipilih dengan makna yang mencerminkan karakter varietasnya.

“Nabila” berasal dari bahasa Arab yang berarti mulia, terhormat, dan berbudi luhur. Varietas ini memiliki polong berwarna hijau.

Sementara “Yalanda” diambil dari nama Yolanda yang berarti bunga violet, sesuai dengan warna ungu pada polongnya,” ujar pakar pemuliaan tanaman tersebut.

Prof. Syukur menjelaskan, Yalanda IPB dan Nabila IPB merupakan varietas okra bersari bebas (open-pollinated) pertama yang dilepas di Indonesia. Karena dirakit di dalam negeri, keduanya memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik terhadap iklim tropis basah serta lebih tahan menghadapi serangan hama yang umum ditemukan di Indonesia. Selain itu, produktivitasnya juga lebih tinggi dibandingkan varietas yang telah beredar.

“Tanaman ini mulai berbunga pada umur 28 hingga 36 hari setelah tanam. Selanjutnya, buah sudah dapat dipanen pada umur 33 hingga 44 hari setelah tanam,” jelasnya.

Namun, Prof. Syukur mengingatkan bahwa waktu panen menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas okra.

“Setelah bunga mekar, polong harus dipanen dalam waktu tiga sampai lima hari. Jika terlambat, teksturnya akan menjadi keras sehingga kualitasnya menurun,” katanya.

Selain unggul dari sisi budidaya, kedua varietas ini juga memiliki nilai gizi yang tinggi. Yalanda IPB dan Nabila IPB mengandung antioksidan dalam jumlah tinggi serta berpotensi membantu mengontrol kadar gula darah dan kolesterol, sehingga semakin memperkuat posisi okra sebagai salah satu pangan fungsional atau superfood.

Meski konsumsi okra di Indonesia masih relatif terbatas, Prof. Syukur optimistis permintaannya akan terus meningkat seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat.

Dari sisi ekonomi, komoditas ini juga dinilai menjanjikan bagi petani. Selain teknik budidayanya relatif mudah, okra memiliki prospek pasar ekspor yang terbuka lebar.

“Saat ini pasar dalam negeri memang belum terlalu besar. Namun, saya yakin okra akan semakin dikenal masyarakat. Potensi ekonominya sangat besar, terutama untuk memenuhi permintaan ekspor ke Jepang. Petani di Jawa Timur bahkan sudah berhasil menembus pasar tersebut,” pungkas Prof. Syukur.

***

Ahmad Supardi, SustainergyID

Tinggalkan komentar

Sedang Tren