Barisan mangrove muda tumbuh di antara lumpur dan pasang surut air laut di Sungsang IV. Foto: Pertamina

Di pesisir Banyuasin, Sumatera Selatan, barisan mangrove muda tumbuh di antara lumpur dan pasang surut air laut. Di baliknya, ada upaya panjang yang tak hanya soal menanam pohon, tetapi juga menjaga garis depan bumi dari abrasi dan dampak perubahan iklim.

Pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, perhatian terhadap ekosistem pesisir kembali menguat. Hutan mangrove kini dipandang bukan sekadar sabuk hijau di tepi laut, melainkan juga penyerap karbon penting dan penyangga kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung pada laut dan tambak.

Di kawasan Perhutanan Sosial Hutan Desa Sungsang IV, Kabupaten Banyuasin, upaya rehabilitasi itu terus berjalan. Pertamina Patra Niaga Project R&P Sumatera melakukan monitoring berkala terhadap ribuan mangrove yang telah ditanam sejak 2023, sebagai bagian dari program pemulihan ekosistem sekaligus pengembangan ekowisata berbasis konservasi.

Hingga kini, sekitar 21.000 batang mangrove telah ditanam di kawasan tersebut. Program ini tidak berhenti pada tahap penanaman, tetapi memasuki fase krusial: memastikan tanaman bertahan, tumbuh, dan membentuk ekosistem yang stabil.

Senior Project Manager RDMP Project Sumatera, Muhammad Rahmad, mengatakan bahwa keberlanjutan program ditentukan oleh konsistensi pemantauan di lapangan. Ia menekankan bahwa rehabilitasi mangrove tidak bisa dipahami sebagai aktivitas satu kali tanam.

“Melalui monitoring berkala, kami ingin memastikan mangrove yang telah ditanam dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan maupun masyarakat. Keberlanjutan bukan hanya tentang menjaga alam hari ini, tetapi juga mewariskan lingkungan yang lebih baik untuk masa depan,” ujarnya pada 3 Juni 2026 lalu.

Senior Project Manager RDMP Project Sumatera, Muhammad Rahmad, mengatakan bahwa keberlanjutan program ditentukan oleh konsistensi pemantauan di lapangan. Foto: Pertamina

Di Sungsang IV, mangrove bukan hanya benteng alami terhadap abrasi dan gelombang laut, tetapi juga bagian dari strategi iklim yang lebih luas. Ekosistem ini menyerap karbon dalam jumlah besar dan berkontribusi pada agenda penurunan emisi nasional menuju Net Zero Emission 2060.

Ketua Lembaga Pengelola Desa Hutan (LDPHD) Sungsang IV, Abdullah Jabtan, menyebut program ini sebagai kerja jangka panjang yang bertumpu pada kolaborasi masyarakat dan perusahaan. Menurut dia, rehabilitasi mangrove tidak bisa dilepaskan dari peran warga yang hidup di sekitar kawasan hutan desa.

“Melalui Program Pengelolaan Biodiversity, kami bersama Pertamina Patra Niaga terus melaksanakan rehabilitasi dan pengelolaan kawasan mangrove secara berkelanjutan. Program ini mencakup rehabilitasi kawasan mangrove hingga pengembangan konsep ekowisata berbasis konservasi,” katanya.

Di sisi lain, pendekatan lingkungan ini juga diarahkan untuk membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir. Ekowisata mangrove menjadi salah satu opsi yang tengah dikembangkan, dengan harapan kawasan ini tidak hanya lestari secara ekologis, tetapi juga produktif secara sosial.

Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Plaju, Siti Fauzia, mengatakan pengelolaan mangrove tidak berhenti pada aspek konservasi semata. Ada dimensi lain yang ingin dibangun: hubungan timbal balik antara alam yang pulih dan masyarakat yang sejahtera.

“Kami berharap kawasan ini dapat berkembang menjadi ruang edukasi, konservasi, dan ekowisata yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ketika lingkungan tetap terjaga dan masyarakat ikut merasakan dampak positifnya, maka keberlanjutan akan tumbuh secara alami,” ujarnya.

Program ini menjadi bagian dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang dijalankan perusahaan. Selain aspek lingkungan, penguatan kapasitas sosial dan peluang ekonomi lokal menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Monitoring yang dilakukan secara berkala menandai fase penting dalam siklus rehabilitasi: memastikan bahwa upaya yang telah dimulai sejak 2023 tidak berhenti pada angka 21.000 batang, melainkan berkembang menjadi ekosistem yang hidup.

Ke depan, Sungsang IV diproyeksikan menjadi kawasan ekowisata berbasis konservasi. Di tempat ini, mangrove tidak hanya berdiri sebagai pagar alami pesisir, tetapi juga sebagai ruang belajar tentang bagaimana manusia dan alam dapat saling menjaga di tengah krisis iklim yang kian nyata.

***

Ahmad Supardi, SustainergyID

Tinggalkan komentar

Sedang Tren