Sorgum bisa menjadi solusi alternatif pangan di Indonesia. Foto: BRIN

BRIN mengembangkan sorgum dan serealia lain sebagai komoditas yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim melalui integrasi teknologi pemuliaan tanaman dan budidaya presisi. Upaya tersebut diharapkan menghasilkan varietas unggul yang mampu tumbuh di lahan kering maupun marginal sekaligus mendukung ketahanan pangan, energi, dan industri nasional.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Webinar Teras-TP#1 bertajuk Integrasi Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Sorgum dan Serealia Lain untuk Pengembangan Varietas Unggul Adaptif terhadap Perubahan Iklim yang diselenggarakan Pusat Riset Tanaman Pangan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Rabu (1/7).

Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha, mengatakan pengembangan varietas adaptif menjadi langkah strategis menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata, termasuk potensi musim kemarau lebih panjang akibat fenomena El Niño.

Menurut dia, sorgum memiliki prospek besar karena hampir seluruh bagian tanamannya dapat dimanfaatkan sebagai pangan, pakan, hingga energi. Dari sisi pangan, biji sorgum berpotensi menjadi bahan baku substitusi tepung terigu.

“Indonesia masih mengimpor lebih dari 11 juta ton gandum setiap tahun. Melalui berbagai penelitian, kami telah menghasilkan varietas sorgum yang dapat menjadi bahan substitusi tepung terigu tanpa menurunkan mutu produk pangan,” ujar Yudhistira.

Selain untuk pangan, BRIN juga mengembangkan pemanfaatan sorgum bersama mitra industri. BRIN bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero) untuk memanfaatkan nira sorgum sebagai bahan baku bioetanol guna mendukung program mandatori E20. Biomassa sorgum juga dikembangkan sebagai bahan co-firing pada pembangkit listrik bersama sejumlah perusahaan swasta.

Yudhistira menambahkan, kemajuan teknologi pemuliaan tanaman memungkinkan proses perakitan varietas unggul berlangsung lebih cepat dibandingkan metode konvensional. Menurut dia, kombinasi pemuliaan modern dan budidaya presisi diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan sektor pertanian terhadap perubahan iklim.

Salah satu teknologi yang dikembangkan BRIN ialah pemuliaan tanaman berbasis mutasi induksi. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Pangan ORPP BRIN, Prof. Soeranto, mengatakan teknik tersebut mempercepat munculnya keragaman genetik yang menjadi dasar seleksi varietas unggul.

“Keragaman genetik dapat diperoleh melalui introduksi plasma nutfah, persilangan, bioteknologi, maupun mutasi induksi. Pendekatan ini membuat proses seleksi menjadi lebih efektif,” kata Soeranto.

Ia menjelaskan, mutasi induksi umumnya dilakukan menggunakan radiasi sinar gamma yang dinilai aman karena tidak meninggalkan residu pada tanaman maupun menyisipkan gen asing sebagaimana tanaman transgenik. Berdasarkan data IAEA Mutant Variety Database, lebih dari 3.400 varietas mutan di dunia telah dihasilkan melalui teknologi tersebut.

Menurut Soeranto, teknologi mutasi induksi memungkinkan peneliti memperoleh sifat-sifat unggul, seperti toleran terhadap kekeringan, salinitas, keasaman tanah, serta tahan hama dan penyakit. Teknik ini juga dapat diterapkan pada berbagai komoditas, mulai dari tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, hingga kehutanan.

Hingga kini, pemanfaatan teknologi pemuliaan mutasi di Indonesia telah menghasilkan puluhan varietas unggul yang dilepas secara resmi, antara lain 34 varietas padi, 15 varietas kedelai, dan tiga varietas sorgum. Beberapa di antaranya memiliki produktivitas tinggi, kualitas hasil yang baik, serta lebih tahan terhadap cekaman lingkungan.

***

Ahmad Supardi, SustainergyID

Tinggalkan komentar

Sedang Tren