
Agus, 44 tahun, berjalan di pematang sawah sambil memikul tangki penyemprot. Sesekali ia berhenti, mengarahkan ujung selang ke rumpun rumput yang tumbuh di antara tanaman padi. Pagi itu, di Kampung 1, Desa Sejaro Sakti, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, ia sedang membersihkan gulma sebelum air kembali menggenangi sawah.
Musim kemarau selama enam bulan terakhir, membuat rawa lebak di sekitar desa itu mengering. Tanah yang biasanya terendam air mulai mengeras. Bagi Agus, keadaan tersebut justru menjadi kesempatan untuk membersihkan rumput yang tumbuh di antara tanaman padi.
“Mumpung tanah belum banyak air. Kemarin hujan pertama. Kalau hujan lagi, air akan menggenangi sawah dan meracun rumput jadi susah,” kata Agus pada Kamis, 29 Oktober 2026.
Agus menggarap sawah seluas sekitar 1,5 hektare. Di kawasan rawa lebak, pekerjaan petani sangat bergantung pada perubahan air. Ketika rawa meluap, sebagian lahan sulit dijangkau. Sebaliknya, saat kemarau, petani harus mencari cara agar tanaman tidak kekurangan air.
Mereka tidak sepenuhnya bergantung pada hujan. Untuk menjaga tanaman tetap mendapat air, petani mengandalkan beberapa cara. Mereka membuat kolam-kolam cukup dalam di area rawa lebak. Ketika rawa mengering pada musim kemarau, kolam-kolam itu masih menyimpan air. Dengan bantuan pompa, air disedot lalu dialirkan ke petak-petak sawah.
Sebagian petani bahkan mengeluarkan biaya sendiri untuk membuat sumur bor sebagai sumber air tambahan. Sementara itu, jaringan irigasi air tanah (JIAT) yang dibangun pemerintah pada Agustis lalu belum sepenuhnya bisa diandalkan karena masih menghadapi sejumlah kendala.
Upaya itu membutuhkan tenaga dan biaya. Namun, dengan cara tersebut, petani masih bisa mengairi sawah dan merawat tanaman meski air rawa mulai surut.
Tanaman padi di lahan Agus terlihat hijau. Batangnya mulai meninggi, meski bulir padi belum muncul. Ia memperkirakan panen berlangsung pada Desember atau Januari mendatang, selama pertumbuhan tanaman berjalan baik.
Di Sejaro Sakti, Agus tidak mengurus sawah sendirian. Ia tergabung dalam Kelompok Tani Subur Hijau Sejaro Sakti. Melalui kelompok ini, para petani saling membantu mengatasi persoalan di lahan, mulai dari urusan pengairan hingga kebutuhan pupuk.
Lamia, 55 tahun, merasakan manfaat keberadaan kelompok tersebut. Petani perempuan ini mengatakan, mereka bisa berbagi tenaga ketika harus membuat saluran air atau mengoperasikan pompa pada musim kemarau. Urusan pupuk pun lebih mudah diakses melalui kelompok.
“Dengan kelompok tani, kami bisa saling bantu-membantu. Misalnya di musim kemarau ini, kami bikin saluran air dan pompa bersama. Begitu juga masalah pupuk, kami lebih mudah mendapatkan pupuk,” ujarnya.
Bagi petani lebak, persoalan air tidak sesederhana ada atau tidaknya hujan. Air yang berlebihan bisa menghambat pekerjaan, sementara air yang terlalu sedikit membuat mereka harus mengeluarkan tenaga dan biaya tambahan untuk mengairi sawah. Karena itu, saluran, pompa, kolam, dan sumur bor menjadi bagian dari upaya mempertahankan musim tanam.
Kelompok Tani Subur Hijau Sejaro Sakti memiliki 35 anggota. Munawar, 44 tahun, yang menjadi ketua kelompok selama dua tahun terakhir, mengatakan para anggota mengelola lahan sekitar 30 hektare. Selain padi, mereka juga menanam berbagai jenis hortikultura.
Menurut Munawar, perubahan cukup terasa dalam cara petani memperoleh pupuk. Sebelum mekanisme penyaluran seperti sekarang berjalan, petani harus mencari pupuk sendiri ke kios atau toko pertanian lain. Hasilnya tidak selalu pasti. Ada kalanya pupuk tersedia, tetapi tak jarang mereka harus mencari ke tempat lain karena stok kosong.
Kini, kebutuhan pupuk anggota lebih terkoordinasi melalui kelompok tani. Pengurus membantu mendata kebutuhan setiap anggota untuk dimasukkan dalam elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK). Kelompok juga membantu mengurus proses penebusan pupuk bersubsidi sesuai alokasi yang ditetapkan pemerintah.
Dengan mekanisme tersebut, petani tidak lagi harus mencari pupuk sendiri ke berbagai tempat seperti sebelumnya. Ketersediaannya lebih pasti dan waktu untuk mendapatkannya pun lebih singkat. Bagi Munawar, kepastian ini membantu anggota kelompok merencanakan kegiatan di sawah, terutama ketika tanaman memasuki masa pemupukan.
Pada September lalu, anggota kelompok kembali menanam padi untuk musim tanam kedua. Musim tanam pertama sebelumnya telah dipanen. Munawar memperkirakan tanaman yang sekarang tumbuh akan siap dipanen pada Desember hingga Januari.
Hasil panen mereka, kata Munawar, bisa lebih dari tiga ton per hektare. Namun, hasil tersebut tetap bergantung pada kondisi tanaman, pengairan, pemupukan, dan perawatan selama masa tanam. Ketersediaan pupuk menjadi salah satu penunjang agar kegiatan pertanian berjalan sesuai jadwal.

Menjaga Pasokan hingga ke Petani
Pengalaman petani Sejaro Sakti menunjukkan bahwa kemudahan memperoleh pupuk tidak hanya berkaitan dengan jumlah persediaan. Ada proses pendataan, penyaluran, hingga penebusan yang menentukan apakah pupuk dapat sampai kepada petani ketika dibutuhkan.
Dalam mekanisme penyaluran pupuk bersubsidi, Pupuk Indonesia menyalurkan pupuk melalui Pelaku Usaha Distribusi (PUD), kemudian diteruskan kepada Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS). Kios atau pengecer resmi merupakan salah satu bentuk PPTS tempat petani menebus pupuk.
Petani yang terdaftar dalam elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) dapat menebus pupuk sesuai alokasi yang ditetapkan pemerintah. Penebusan dilakukan melalui aplikasi i-Pubers dengan menunjukkan KTP asli. Jika diwakilkan, petani harus mengikuti ketentuan surat kuasa.
Melalui sistem tersebut, penyaluran pupuk bersubsidi diarahkan agar memenuhi prinsip 7T: tepat jenis, jumlah, harga, tempat, waktu, mutu, dan sasaran atau penerima. Transaksi penebusan dicatat secara digital sehingga penyaluran dapat dipantau hingga tingkat petani.
Pupuk Indonesia juga menggunakan Command Center untuk memantau perjalanan pupuk dari pabrik hingga ke petani. Sistem ini dilengkapi pemantauan stok gudang melalui CCTV dan pencatatan transaksi penebusan berdasarkan nomor induk kependudukan petani. Pemantauan tersebut digunakan perusahaan untuk mengetahui kondisi persediaan sekaligus mengidentifikasi persoalan distribusi.
Kesiapan pasokan menjadi perhatian menjelang musim tanam Oktober 2026 hingga Maret 2027. Per 12 Oktober 2026, Pupuk Indonesia menyediakan stok pupuk nasional sebanyak 1,81 juta ton. Jumlah tersebut terdiri atas 1,30 juta ton pupuk bersubsidi dan sekitar 454 ribu ton pupuk nonsubsidi.
Wakil Presiden Perencanaan Penjualan Ritel Pupuk Indonesia Saeful Huda Rijaludin mengatakan stok pupuk bersubsidi tersebut berada di atas batas persediaan pengaman atau safety stock. Dengan rata-rata penebusan sekitar 30 ribu ton per hari, persediaan yang ada diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan petani terdaftar hingga 46 hari ke depan.
“Jadi stok pupuk bersubsidi yang kami siapkan saat ini dapat memenuhi kebutuhan petani terdaftar hingga 46 hari ke depan. Tentunya secara paralel, kami terus melakukan building stock agar pasokan tetap terjaga sepanjang musim tanam Oktober hingga Maret,” kata Saeful dalam webinar Optimalisasi Pupuk Bersubsidi pada Musim Tanam Oktober-Maret dan Sosialisasi e-RDKK Tahun 2027, Rabu, 14 Oktober 2026.
Berdasarkan data perusahaan per 12 Oktober 2026, stok pupuk bersubsidi terdiri atas 838.825 ton Urea, 460.299 ton NPK, dan 18.733 ton NPK khusus kakao. Selain itu, tersedia 57.845 ton pupuk organik, 11.105 ton SP-36, dan 3.783 ton ZA. Adapun stok pupuk nonsubsidi terdiri atas 358.973 ton Urea, 22.912 ton NPK, dan 37.669 ton ZA. Pupuk nonsubsidi dapat dimanfaatkan petani yang tidak terdaftar dalam e-RDKK.
Hingga 9 Oktober 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi nasional mencapai 7,1 juta ton atau 72,11 persen dari total alokasi pemerintah. Untuk mengoptimalkan penyerapan, pemerintah juga melakukan penyesuaian alokasi antarprovinsi.
Ketua Tim Kerja Alokasi Pupuk Bersubsidi Direktorat Pupuk Kementerian Pertanian Yustiana Retno Widjawati menyebutkan sisa alokasi yang masih dapat ditebus petani mencapai 2.769.963 ton. Sebagian alokasi dari provinsi dengan tingkat penebusan rendah dialihkan ke provinsi yang tingkat penebusannya lebih tinggi agar persediaan dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan.
Pemantauan stok, pencatatan transaksi, dan penyesuaian alokasi merupakan bagian dari upaya menjaga pasokan selama musim tanam. Namun, bagi petani, ukuran paling nyata dari layanan tersebut sederhana: pupuk tersedia ketika mereka membutuhkannya, dengan jumlah dan harga sesuai ketentuan.

Menunggu Musim Panen
Padi yang ditanam pada September belum bisa ditinggalkan begitu saja. Agus masih harus membersihkan rumput yang tumbuh di antara tanaman. Petani lain di Kampung 1 juga sibuk memastikan saluran air dan pompa siap digunakan ketika sawah mulai kekurangan air.
Di kawasan lebak, perubahan cuaca bisa mengubah keadaan sawah dalam waktu singkat. Hujan beberapa kali saja dapat membuat rawa kembali tergenang. Sebaliknya, ketika kemarau berlangsung lebih panjang, petani harus mencari cara agar tanaman tetap mendapat air. Sebagian membuat sumur bor dengan biaya sendiri. Ada pula yang mengandalkan saluran dan pompa yang digunakan bersama melalui kelompok tani.
Bagi Agus, panen masih beberapa bulan lagi. Ia memperkirakan padi di lahannya baru bisa dipanen pada Desember atau Januari, jika pertumbuhannya berjalan baik. Sebelum itu, masih ada rumput yang harus dibersihkan dan tanaman yang perlu dirawat.
“Kalau tidak ada kendala, mungkin Desember atau Januari sudah panen,” kata Agus.
Setelah menyelesaikan satu petak, Agus berpindah ke bagian sawah lainnya. Tanaman padi di sekitarnya masih hijau. Ia kembali mengangkat tangki semprot dan melanjutkan pekerjaannya. Musim panen memang belum dekat. Untuk saat ini, sawah masih membutuhkan perhatiannya.
***
Ahmad Supardi, SustainergyID

Jurnalis yang meliput isu energi, lingkungan, pembangunan, dan transisi energi. Ia pernah bekerja di Tempo dan Mongabay Indonesia. Co-author Buku Lampung dan Masa Depan Sumatera (Mongabay Indonesia, 2021) dan Buku Kisah Gajah Sumatera (Mongabay Indonesia, 2025).
Saat ini mengembangkan SustainergyID. Meraih beberapa penghargaan, terbaru pada Anugerah Jurnalis Pertamina (AJP) 2025.





Tinggalkan Balasan