
Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Sumatera Selatan mencapai 438.120 kasus sepanjang Januari hingga 22 Oktober 2026. Jumlah penderita meningkat signifikan sejak Agustus, seiring memburuknya kualitas udara akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, kasus ISPA pada Juli 2026 tercatat sebanyak 28.145 kasus. Angka tersebut meningkat menjadi 46.987 kasus pada Agustus atau hampir dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya.
Peningkatan berlanjut pada September dengan 52.483 kasus, naik 11,62 persen dibandingkan Agustus. Adapun pada Oktober, jumlah penderita hingga tanggal 22 mencapai 36.929 kasus.
“Secara akumulasi, kasus ISPA di Sumsel dari Januari sampai 22 Oktober kemarin sebanyak 438.120 kasus dan sejak Agustus sampai hari kemarin mengalami peningkatan,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sumatera Selatan Ira Primadesa, dikutip dari Tirto pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Menurut Ira, jumlah kasus ISPA harian sepanjang Oktober berkisar 1.500 hingga 2.500 kasus. Palembang menjadi daerah dengan jumlah penderita terbanyak, disusul Muara Enim dan Musi Banyuasin.
Penderita ISPA didominasi kelompok usia lima tahun ke atas, sedangkan sebagian lainnya merupakan balita. Berdasarkan jenis kelamin, jumlah penderita perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki.
Ira mengatakan peningkatan kasus ISPA tidak terlepas dari paparan asap karhutla. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 yang meningkat dapat memperburuk kualitas udara dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Dampak kabut asap juga dirasakan warga dalam aktivitas sehari-hari. Sejumlah warga mengeluhkan mata perih, batuk, sesak napas, hingga bau asap yang menyengat.
Amrina Rosada Azzahra, mahasiswi Administrasi Publik Universitas Sriwijaya angkatan 2025, mengaku kerap mengalami sesak napas ketika berada di luar ruangan dalam waktu lama. Kondisi itu diperparah oleh cuaca panas dan kabut asap.
“Saya sendiri selama masa karhutla ini sering mengalami gejala sesak napas tak menentu, terutama jika saya berada di luar ruangan terlalu lama, ditambah dengan cuaca yang sering kali panas dan ditambah dengan parahnya kabut asap ini,” ujar Amrina, Senin, 19 Oktober 2026.
Ia juga mengeluhkan gangguan penglihatan ketika terpapar asap, terutama saat mengendarai sepeda motor.
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kota Palembang menyiagakan enam puskesmas selama 24 jam untuk melayani warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat kabut asap.
Dinas Kesehatan Sumatera Selatan mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap. Warga yang mengalami keluhan saluran pernapasan juga diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
“Kami imbau di masa-masa sekarang, ISPU meningkat, wajib pakai masker untuk mencegah terpapar asap secara langsung,” kata Ira.
***
Gladis Musyayyadah, mahasiswa dari Departemen Ilmu Administrasi Publik (angkatan 2025) di Universitas Sriwijaya. Peserta Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar Lembaga Pers Mahasiswa LIMAS x SustainergyID x AJI Palembang.





Tinggalkan Balasan