
Tanaman dalam Al-Qur’an tidak hanya diposisikan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan hidup manusia, tetapi juga mengandung nilai spiritual dan pesan ekologis yang dapat memperkuat kesadaran menjaga kelestarian lingkungan. Kesimpulan itu dihasilkan dari kajian terhadap Surah Al-An’am ayat 99 berdasarkan Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama yang dilakukan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (PR KKP) BRIN, Prof. H.M. Hamdar Arraiyyah.
Kajian tersebut berangkat dari meningkatnya persoalan lingkungan di tingkat global. Dalam konteks itu, ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas alam dinilai menyimpan pesan yang relevan untuk membangun kesadaran ekologis sekaligus mendorong pelestarian lingkungan.
“Penelitian ini mengkaji hubungan antara dimensi material dan dimensi spiritual tanaman sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama, dengan fokus pada Surah Al-An’am ayat 99,” ujar Hamdar saat memaparkan hasil penelitiannya dalam kegiatan Bedah Riset dan Diskusi Artikel (BERANDA) #2 yang diselenggarakan PR KKP, Rabu (1/7).
Melalui kajian tersebut, Hamdar menelaah bagaimana tafsir menjelaskan beragam jenis tanaman beserta manfaatnya bagi kehidupan manusia. Selain menguraikan fungsi material yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup, tafsir juga mengungkap nilai-nilai spiritual yang mengajak manusia mengenali tanda-tanda kebesaran Allah SWT melalui ciptaan-Nya.
Menurut Hamdar, sejumlah penelitian sebelumnya telah membahas tanaman dalam Al-Qur’an dari berbagai perspektif, seperti identifikasi spesies, manfaat kesehatan, nilai ekonomi, hingga pemanfaatannya dalam kehidupan masyarakat. Namun, kajian yang secara khusus mengulas Surah Al-An’am ayat 99 masih relatif terbatas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran tanaman dalam Al-Qur’an tidak berhenti pada fungsi biologis maupun manfaat ekonominya. Tafsir juga memuat pelajaran mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.
“Tanaman memiliki nilai material berupa manfaat dan nilai ekonomi, tetapi pada saat yang sama juga mengandung nilai spiritual yang memberikan pelajaran bagi manusia serta menunjukkan kebesaran Allah,” kata Hamdar.
Kajian tersebut juga menunjukkan adanya dialog antara tafsir Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan. Dalam menjelaskan ayat-ayat tentang tanaman, Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama mengutip berbagai penjelasan ilmiah, termasuk pandangan ahli botani dan pembahasan mengenai proses-proses alam yang mendukung pertumbuhan tanaman.
Hamdar menilai pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa penafsiran Al-Qur’an dapat diperkaya melalui perspektif ilmiah. Penjelasan mengenai air sebagai sumber kehidupan, pertumbuhan tanaman, hingga proses fotosintesis menjadi contoh perpaduan antara penafsiran keagamaan dan sains dalam memahami fenomena alam.
Ia menambahkan, berbagai persoalan lingkungan saat ini tidak terlepas dari perilaku manusia yang merusak alam serta pola konsumsi yang tidak berkelanjutan. Karena itu, pengembangan kajian terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan lingkungan dinilai penting untuk memperkuat kesadaran ekologis masyarakat.
Hamdar juga mendorong kolaborasi yang lebih erat antara ilmuwan keagamaan dan saintis dari berbagai disiplin ilmu. Menurut dia, sinergi lintas bidang dapat memperkaya pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas fenomena alam sekaligus memperluas kontribusinya dalam menjawab tantangan lingkungan dan persoalan kontemporer.
***
Ahmad Supardi, SustainergyID




Tinggalkan komentar