Dari laboratorium di Banda Aceh, aroma khas minyak nilam kini menguar hingga ke Prancis. Foto: BRIN

Dari laboratorium di Banda Aceh, aroma khas minyak nilam kini menguar hingga ke Prancis. Produk unggulan dari Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (USK) itu telah menandai tonggak penting dalam perjalanan hilirisasi riset Indonesia, dari kampus menuju pasar global.

“Hingga kini ARC telah membina dan memfasilitasi ekspor nilam sebanyak 57 kali ke Prancis, menandai kemajuan besar sektor agroindustri Aceh,” ujar Ketua ARC USK, Syaifullah Muhammad, dalam rapat koordinasi bersama Direktorat Kebijakan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, di Banda Aceh, Rabu (8/10).

Nilam, Tanaman Wangi yang Diminati Pasar Mancanegara. Foto: Ist

Nilam adalah tanaman semak tropis (Pogostemon cablin) yang terkenal karena menghasilkan minyak atsiri berkualitas tinggi dari daunnya, yang digunakan secara luas dalam industri parfum, kosmetik, dan aromaterapi. Indonesia merupakan produsen utama minyak nilam dunia, yang dikenal memiliki kualitas terbaik. 

Nilam bukan sekadar komoditas ekspor bagi Aceh. Ia menjadi simbol keberhasilan riset terapan yang memberi nilai tambah nyata bagi ekonomi daerah. ARC berhasil membangun rantai inovasi dari riset dasar, produksi, hingga komersialisasi, melibatkan petani, industri kecil, hingga eksportir.

“ARC telah menjadi kebanggaan USK. Hampir setiap program studi menjadikannya contoh praktik baik saat visitasi akreditasi,” kata Syaifullah.

Model kolaborasi riset yang dikembangkan ARC bahkan dinilai sebagai salah satu ekosistem riset terbaik di Indonesia, menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Plt. Direktur Kebijakan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Muhammad Amin, menekankan pentingnya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga riset daerah (BRIDA/BAPPERIDA).

“Kolaborasi antara perguruan tinggi dan BRIDA di berbagai daerah masih belum optimal. Ini menjadi tugas bersama untuk memperkuat jembatan kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi,” ujarnya.

Gagasan kolaboratif itu disambut antusias oleh tim ARC. Salah satu ide yang muncul adalah pengembangan skema beasiswa Degree by Research (DbR) berbasis kebutuhan daerah.

Melalui skema ini, riset mahasiswa dapat diarahkan pada isu-isu lokal yang memberi solusi langsung bagi masyarakat.

Dalam diskusi, juga mengemuka pentingnya komunikasi antara USK dan Pemerintah Provinsi Aceh untuk mempercepat pembentukan BRIDA Aceh.

Menurut Syaifullah, kehadiran BRIDA akan menjadi langkah strategis memperkuat riset berbasis kebutuhan daerah, khususnya pada pengembangan agroindustri nilam dan produk turunan atsiri lainnya.

“Model ini terbukti memberikan nilai tambah ekonomi bagi daerah. BRIDA tidak perlu membangun laboratorium baru, tapi cukup memanfaatkan fasilitas laboratorium USK yang sudah lengkap dan berstandar nasional,” jelasnya.

Ia menegaskan, USK memiliki dua kekuatan besar, sumber daya manusia unggul dan infrastruktur laboratorium yang memadai.

“Jika BRIDA Aceh terbentuk, keduanya bisa dimaksimalkan untuk riset yang berorientasi pada solusi nyata dan berdampak nasional,” tambahnya.

***

Ahmad Supardi, SustainergyID

Tinggalkan komentar

Sedang Tren