
Sejauh mata memandang yang terlihat hanya luasnya lautan, kian dekat gugusan pulau pulau kecil berjejer berisi berbagai macam pohon, ada kelor, binong, kukin dan bintangur membentang seperti lukisan. Kapa-kapal bersandar di dermaga bertuliskan Selamat Datang di Desa Labuan Aji.
Ombak menyapu garis bibir pantai lalu dipecah langkah kecil sambil menyeringai tersenyum. Anak – anak ini menyambut pelancong yang datang dengan rasa penasaran dan malu malu. Begitu juga dengan kepakan sayap burung kakatua yang sesekali terlihat lalu cepat bersembunyi di tajuk pepohonan.
Tidak banyak yang tahu bahwa ada taman nasional baru bernama Moyo Satonda, perpaduan ekosistem darat dan laut yang belum tersentuh, hijaunya hutan, biru nya laut dan derasnya air terjun membentuk harmoni alam yang memanjakan mata.
Sebelum menjadi taman nasional, kawasan ini terdiri dari Taman Buru Pulau Moyo, Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo dan Taman Wisata Alam Pulau Satonda. Saat ini kelembagaan TN Moyo Satonda belum terbentuk sehingga masih dibawah pengelolaan BKSDA Nusa Tenggara Barat.
Taman nasional seluas ± 31.200,15 Ha ini, tidak hanya menjadi rumah bagi manusia, melainkan rumah bagi Kakatua Kecil Jambul Kuning dan menyimpan keanekaragaman hayati yang masih asli.
Taman Nasional Ke-55 di Indonesia
Taman nasional Moyo Satonda diambil dari nama pulau yaitu Pulau Moyo dan Satonda. Taman nasional ini ditetapkan pada tanggal 16 Agustus 2022 melalui Surat Keputusan Menteri LHK Nomor 901.
Pada awalnya Pulau Moyo ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam Laut seluas 6.000 Ha di tahun 2001 dan Taman Buru Pulau Moyo seluas 22.600,15 Ha tahun 2015. Begitu juga dengan Pulau satonda yang merupakan Taman Wisata Alam Laut dari tahun 2001. Meskipun berubah statusnya, kawasan tersebut masih tergolong kawasan konservasi.
Tidak hanya level nasional, di tingkat internasional pun kawasan ini diakui oleh UNESCO sebagai cagar biosfer Samota (Saleh Moyo Tambora) pada tahun 2019. Keanekaragaman hayati yang tinggi seperti hutan dataran rendah, terumbu karang hingga jalur perlintasan fauna merupakan dasar perlu adanya perlindungan lanskap yang eksotis ini.
Jejak sejarah di masa lalu juga masih terasa, terbukti dengan adanya danau air asin di Pulau Satonda atau biasa disebut laboratorium oseanografi purba karena ekosistemnya mencerminkan danau kondisi laut pada masa pembentukan bumi. Keadaan ini dipengaruhi oleh letusan Gunung Tambora tahun 1815 yang menyebabkan air di danau ini asin.
Saat ini pemerintah pusat dan daerah secara terpadu membangun pengelolaan kelembagaan taman nasional dengan memberdayakan masyarakat setempat melalui pembentukan kakatua ranger dan melibatkan 4 Kelompok Tani Hutan (KTH) untuk sama sama melindungi kawasan taman nasional.

Foto: kabar alam
Berbagai Ekosistem dalam Satu Kawasan
Posisinya yang jauh dari daratan membuat kawasan ini menjadi eksklusif, ditambah dengan kapal wisata pinisi yang melewati Moyo Satonda biasanya merupakan tamu liveaboard (menginap di dalam kapal). Selain itu, rute menuju Pulau Moyo bisa melalui pelabuhan badas dan pantai goa.
Pulau Moyo memiliki magnet daya tarik yang kuat karena ekosistemnya yang beraneka ragam. Contohnya terdapat dua tipe terumbu karang yaitu terumbu karang tepi dan terumbu karang gosong. Kegiatan snorkeling dilakukan cukup di tepi pantai sudah bisa menikmati keindahan bawah laut.
Pasir pantai didominasi berwarna putih seperti Tanjung Pasir, Brang Koa, Arung Santek dan Labuan Aji. Adapun pantai dengan bebatuan terjal sisa abrasi laut serta hutan mangrove di sekeliling pantai.
Selain hutan mangrove, terdapat hutan tropis dataran rendah dengan berbagai daya tariknya. Obyek wisata utama di Pulau Moyo adalah air terjun mata jitu dengan batuan yang berundak dan derasnya air terjun di tengah pepohonan membuat kesan megah dan eksotis dalam satu waktu. Sebenarnya ada air terjun lain yaitu air terjun Brangrae di Oi Makbu.
Gejala alam lainnya ada Gua Tanjung Pasir dan Gua Ai Manis, namun belum ada jalan setapak untuk mencapai goa tersebut. Sedangkan satwa yang tinggal di pulau ini meliputi rusa, babi hutan,burung betong dan kakatua kecil jambul kuning. Ada juga perkebunan masyarakat di Pulau Moyo seperti jagung, jambu mete dan kelapa.
Berbeda halnya dengan Pulau Satonda, yang jaraknya dari Moyo kurang lebih 1 jam menggunakan speedboat. Ekosistem danau air asin Satonda menyimpan sejarah ribuan tahun lalu. Danau ini mengandung stromatolite yaitu terumbu dengan mikroba alga biru hijau yang berfotosintesis. Mikrobial seperti ini hanya ada 5 tempat di dunia dan salah satunya Pulau Satonda, stromatolite ini lah yang menyebabkan air di danau ini lebih asin daripada air laut sekitarnya.

Foto : BKSDA NTB
Pertahanan Kakatua Kecil Jambul Kuning
Sebagai ikon dari taman nasional, keberadaan Burung Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea occidentalis) sangat dilindungi. Selain termasuk daftar Appendix I CITES dan berisiko tinggi untuk punah di alam dalam daftar merah IUCN, burung KKJK juga sebagai indikasi tingkat kesehatan ekosistem Moyo Satonda. Burung ini membutuhkan sarang yang tegap dan kuat untuk tinggal, sehingga jika populasinya menurun menandakan bahwa habitatnya juga rusak.
Namun, pada kenyataannya burung ini semakin sulit terlihat. Data populasi KKJK tahun 2024 menunjukan, hanya ada 51 individu dengan area sampling 8.961 Ha (BKSDA NTB). Menurut I Wayan Suana, ahli ekologi Universitas Mataram, populasi ini tergolong kecil dan rentang mengalami kepunahan di tengah banyaknya ancaman dan tantangan.
Meski begitu, upaya pelestarian dan perlindungan telah dilakukan dengan pemasangan lubang sarang buatan, penyadartahuan kepada masyarakat, pembentukan kakatua ranger dan ranger woman serta penyusunan peta jalan konservasi KKJK.
Ketika ancaman terhadap Moyo Satonda semakin banyak, maka semakin banyak juga upaya pelestarian yang harus ditempuh. Itu semua agar burung bebas mengepakan sayapnya, rusa berlari ke semak hutan dan terumbu karang mewarnai laut Moyo Satonda dengan kehidupan alam yang alami dan lestari.
Moyo Satonda telah mengalami banyak peristiwa di masa lalu, ia adalah warisan untuk dijaga hari ini, besok dan seterusnya.
***
Diandra Fauzia Lestari




Tinggalkan komentar