
Lampu-lampu rumah di perbukitan Rantau Dedap, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, menyala tanpa sambungan kabel dari PLN.
Di dusun terpencil yang berada di Desa Segamit ini, listrik tidak datang dari jaringan negara. Ia lahir dari aliran sungai kecil yang ditangkap dalam penampungan, diolah dengan cara sederhana menjadi sumber energi, lalu dibagi ke rumah-rumah warga. Namanya Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).
Saat malam turun, cahaya itu terlihat bertitik-titik dari kejauhan. Tidak terlalu terang, namun cukup untuk menandai kehidupan. Dari lereng bukit, rumah-rumah kayu tampak seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi, berserakan, mengikuti kontur alam.
Tidak ada tiang beton, tidak ada gardu induk. Kabel-kabel listrik membentang mengikuti lekuk tanah, menempel pada batang-batang kayu, melintas di antara kebun kopi dan sawah berundak. Di beberapa titik, kabel itu harus ditopang bambu agar tidak terendam air saat hujan turun deras.
Baca: Menjaga Hutan Rantau Dedap di Tengah Proyek Panas Bumi

Dusun Rantau Dedap berada di ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut, menjadikannya salah satu permukiman tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan. Udara sejuk terasa hampir sepanjang hari. Pada pagi hari, embun masih menggantung di daun kopi. Ayam berkokok bersahut-sahutan. Menjelang sore, kabut turun perlahan, menyelimuti perbukitan Bukit Barisan yang mengelilingi dusun ini.
Untuk mencapai Rantau Dedap, dibutuhkan waktu lebih dari delapan jam perjalanan dari Kota Palembang. Perjalanan panjang itu melewati Kabupaten Lahat, lalu masuk ke Kecamatan Kota Agung. Jalan berkelok, naik turun perbukitan, mengiringi kendaraan melewati jurang-jurang yang menganga.
Di beberapa titik, jalan berubah menjadi tanah dan bebatuan. Saat hujan, lintasan ini menjadi licin dan rawan longsor. Saat kemarau, debu beterbangan. Tak jarang kendaraan harus berjalan pelan, memberi jalan bagi petani yang memikul hasil kebun atau sepeda motor tua yang membawa karung-karung kopi dari ladang.
Di wilayah pegunungan ini, sekitar 670 keluarga bermukim secara turun-temurun. Mereka adalah Suku Semende Darat, yang mendiami tanah warisan leluhur selama puluhan generasi. Ikatan mereka dengan alam terjaga dalam pola hidup sehari-hari. Sawah dibuka di lembah-lembah yang dialiri air pegunungan. Kebun kopi tumbuh di lereng-lereng bukit. Di pekarangan rumah, warga menanam cabai, sayur, dan tanaman hortikultura lain untuk kebutuhan harian.
Air menjadi pusat kehidupan. Sungai-sungai kecil mengalir dari hulu Bukit Barisan, mengairi sawah, kebun, dan kebutuhan rumah tangga. Air pula yang kelak mengubah wajah malam di Rantau Dedap.
Baca: Kisah Evakuasi Harimau Sumatera Bernama Enim

Energi di Perut dan Permukaan Bumi
Secara administratif, Dusun Rantau Dedap berada di Desa Segamit. Di wilayah ini pula terdapat pengembangan energi panas bumi. PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD) mengelola potensi geotermal yang tersimpan di perut bumi, menjadi bagian dari pemanfaatan energi terbarukan di Sumatera Selatan.
Keberadaan industri panas bumi menunjukkan bahwa kawasan Bukit Barisan menyimpan kekayaan energi yang berlapis panas bumi di bawah tanah, dan aliran air di permukaan. Dua sumber energi terbarukan yang tumbuh berdampingan dalam satu bentang alam.
Namun, bagi permukiman warga yang tersebar di perbukitan dan berada di sekitar kawasan hutan, pemenuhan kebutuhan listrik rumah tangga masih sulit dan membutuhkan pendekatan yang berbeda. Skala besar tidak selalu mudah diterapkan di wilayah dengan topografi curam dan permukiman yang terpencar. Akhirnya mikrohidro menjadi solusi, walau berskala kecil, kampung ini faktanya dekat dengan sumber air, dan dapat dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
Baca: Bambu, Penjaga Air dari Lereng Bukit

Tahun-tahun dalam Gelap
Puluhan tahun lamanya, Rantau Dedap hidup tanpa listrik. Pembangunan infrastruktur kelistrikan negara terhalang kawasan hutan lindung dan medan yang sulit dijangkau. Tiang listrik tak pernah sampai ke dusun ini.
Pada malam hari, satu-satunya cahaya datang dari lampu minyak tanah. Api kecil itu berkelip tertiup angin, meninggalkan jelaga hitam di dinding rumah kayu. Anak-anak belajar dengan cahaya temaram. Aktivitas warga berhenti lebih cepat. Televisi hanya menjadi cerita dari dusun-dusun lain.
“Kalau malam, dusun ini benar-benar gelap,” kata Husni, seorang warga Dusun Rantau Dedap.
“Habis magrib, orang-orang sudah masuk rumah.”
Begitulah keadaan sebelum Markun (50), Kepala Dusun Rantau Dedap, membawa listrik masuk untuk pertama kalinya.
Inspirasi itu datang pada 2007. Saat berkunjung ke Lampung, Markun melihat kerabatnya mengoperasikan turbin mikrohidro. Ia memperhatikan bagaimana aliran air kecil mampu menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik untuk beberapa rumah.
“Waktu itu saya lihat punya saudara saya di Lampung. Mereka pakai turbin mikrohidro,” kata Markun.
“Saya pikir, kenapa tidak dicoba di sini.”
Rantau Dedap memiliki air. Danau Deduhuk, yang tersembunyi di balik bukit, mengalirkan sungai kecil dengan arus cukup deras. Airnya jernih, mengalir stabil sepanjang tahun, bahkan saat kemarau.
Baca: Panel Surya di Pulau Semambu: Panen Terjaga, Api Reda

Bersama warga, Markun mulai mencoba. Tidak ada gambar teknik, tidak ada perhitungan detail. Semua dilakukan dengan pengetahuan seadanya. Turbin dirakit dari komponen sederhana. Pipa dipasang mengikuti alur sungai. Kabel ditarik dari rumah ke rumah.
Kapasitasnya terus berubah. Pernah 1.000 watt, lalu 5.000 watt, bahkan sempat mencapai 10.000 watt.
“Awalnya saya pasang 5.000 watt,” ujar Markun.
Saat lampu pertama kali menyala, suasana dusun berubah. Anak-anak berkumpul di rumah, mereka belajar dengan cahaya terang. Warga duduk lebih lama, berbincang hingga larut malam. Rantau Dedap merasakan terang untuk pertama kalinya.
Namun listrik yang lahir dari kerja swadaya itu juga membawa risiko. Arus sering naik-turun. Lampu kerap mati mendadak. Kabel panas. Tanpa stabilizer dan sistem pengaman, korsleting menjadi ancaman nyata.
Suatu hari di tahun 2013, rumah lama Markun terbakar akibat lonjakan tegangan. Api melahap dinding kayu dalam waktu singkat.
“Itu jadi pelajaran berat,” katanya.
“Kami sadar, listrik harus aman.”
Baca: Panel Surya di Pulau Semambu: Panen Terjaga, Api Reda

Pendampingan Teknis
Kebutuhan akan sistem yang lebih aman dan berkelanjutan membuka jalan bagi pendampingan. Engineer dari Pertamina, bersama dosen dan mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), mulai terlibat.
Salah satu yang mendampingi adalah Ir. Zulkifli Saleh, M.Eng.
“Secara potensi, air di Rantau Dedap sangat memungkinkan untuk mikrohidro,” ujar Zulkifli.
“Yang perlu dibenahi adalah desain sistem, mulai dari turbin, transmisi, hingga pengaman arus. Listrik itu bukan hanya harus menyala, tapi juga aman.”
Zulkifli dan tim melakukan pemetaan ulang. Debit air diukur. Kapasitas turbin disesuaikan. Jalur distribusi diperbaiki. Sistem pengaman dipasang. Rumah turbin dibangun lebih kokoh agar tahan terhadap cuaca pegunungan.
Pendampingan itu dilakukan melalui program Desa Energi Berdikari (DEB). Dalam tiga tahun terakhir, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Plaju secara bertahap menambah kapasitas dan memperbaiki sistem kelistrikan mikrohidro di Rantau Dedap, rumah turbin hingga panel distribusi.
Warga dilibatkan sejak awal. Mereka dilatih mengoperasikan dan merawat pembangkit. Sistem disusun agar mudah dipahami dan dikelola secara mandiri.
Kini, di Rantau Dedap berdiri tujuh unit Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Seluruhnya berinstalasi darat (ground mounted) dan sepenuhnya off-grid, terpisah dari jaringan listrik nasional.
Satu unit terbesar berada di kawasan Deduhuk, dengan kapasitas 12 kilowatt, melayani sekitar 50 rumah tangga. Enam unit lainnya tersebar di kawasan Karyatani, dengan kapasitas bervariasi antara 5 hingga 10 kilowatt.
PLTMH Karyatani 1, misalnya, berdaya 10 kilowatt dan digunakan oleh 21 keluarga. Lima unit lainnya masing-masing berkapasitas 5 kilowatt, melayani antara 10 hingga 15 rumah tangga.
Total kapasitas seluruh PLTMH mencapai sekitar 47 kilowatt, cukup untuk menerangi 133 rumah tangga.
Baca: Belida, Sungai, dan Kolam Harapan di Sungai Gerong

Harapan Terus Mengalir
Potensi baru kembali ditemukan di aliran air dekat Danau Deduhuk. Dengan debit sekitar 100 liter per detik, aliran ini diproyeksikan mampu menggerakkan turbin mikrohidro berdaya 12 kilowatt.
Markun mulai mendata warga yang belum tersentuh listrik. Total ada 167 rumah yang belum dialiri listrik. Salah satunya Putra.
“Selama ini kalau malam gelap,” kata Putra.
“Sekarang kami berharap bisa ikut merasakan listrik.”
Power house terbaru ditargetkan bisa dibangun dan beroperasi pada tahun 2026. Sebagian listriknya direncanakan mengalir hingga ke Dusun Sumber Rezeki, perkampungan di atas bukit yang selama ini sepenuhnya bergantung pada gelap.
“Kami berusaha mencari solusi dan selalu berharap ada perbaikan.”
Menurut Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Plaju, Siti Fauzia, program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat dengan pendekatan yang sesuai kondisi lokal.
“PLTMH di Rantau Dedap adalah contoh bagaimana energi terbarukan bisa dikembangkan berbasis potensi setempat, melibatkan masyarakat, dan memberi dampak langsung bagi kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
“Dusun Rantau Dedap, Desa Segamit ini salah satu wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) dan belum mendapatkan kecupuan listrik, makanya kami berkomitmen melalui program pengembangan energi terbarukan untuk memaksimalkan potensi desa, yaitu PLTMh.”
Di Rantau Dedap, listrik bukan sekadar energi. Ia adalah hasil kedekatan manusia dengan alam, seperti sungai yang dijaga, hutan yang dipertahankan, dan pembangkit kecil yang dirawat bersama.
Pada malam hari, ketika lampu-lampu itu kembali menyala di lereng Bukit Barisan, Rantau Dedap tak lagi sepenuhnya gelap. Terang memang belum menerangi semua rumah, namun cukup untuk menjaga kehidupan tetap bergerak.
“Bagi kami, listrik bukan cuma soal terang,” kata Markun pelan.
“Ini tentang harapan dan keadilan.”
***
Ahmad Supardi, SustainergyID




Tinggalkan komentar