Ilustrasi. Banjir kembali kepung wilayah Kota Bekasi. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)

Hujan deras mengguyur Kota Bekasi sejak dini hari Kamis, 29 Januari 2026, kembali meninggalkan genangan di sejumlah titik permukiman. Air setinggi 10 sentimeter hingga 1,5 meter merendam kawasan di beberapa kecamatan, mengulang pola banjir yang kerap muncul setiap musim hujan.

Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kota Bekasi, Iman Setia Gunawan, mengatakan genangan terjadi akibat curah hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang turun sejak dini hari.

“Genangan air terjadi di sejumlah wilayah Kota Bekasi akibat curah hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi sejak dini hari Kamis, 29 Januari 2026,” ujarnya Iman.

Berdasarkan pemantauan BPBD hingga pukul 10.30 WIB, ketinggian air bervariasi mulai dari sekitar 10 sentimeter hingga 150 sentimeter. BPBD bersama unsur terkait terus melakukan pemantauan, evakuasi, serta koordinasi lintas sektor. Warga diimbau tetap waspada, menghindari area genangan, dan segera melapor jika terjadi kondisi darurat.

Dikutip dari Media Indonesia, sehari setelah banjir, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono meninjau langsung lokasi terdampak di Gang Mawar, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Jumat (30/1). Selain memastikan penanganan berjalan optimal, Tri juga mendengarkan langsung keluhan warga yang terdampak.

Menurut Tri, banjir Bekasi dipicu oleh naiknya tinggi muka air (TMA) Kali Bekasi akibat kiriman dari wilayah hulu, khususnya pertemuan Kali Cileungsi dan Kali Cikeas di Kabupaten Bogor.

“Kalau ketinggian air di titik pertemuan Cileungsi dan Cikeas sudah menyentuh angka 500, itu sudah pasti air akan naik,” katanya. Dalam kondisi ekstrem, TMA bahkan bisa mencapai 750 hingga 850.

Saat ini tercatat sekitar 80 rumah warga terdampak, terutama yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). Tri juga menyoroti keberadaan bangunan di sempadan sungai yang dinilai memperparah risiko banjir. Pembongkaran bangunan tersebut, kata dia, telah disepakati bersama warga untuk dilakukan secara mandiri agar Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dapat masuk melakukan penanganan.

“BBWS baru bisa membangun kalau lahannya sudah clean and clear,” ujarnya. Pemerintah pusat melalui BBWS Kementerian Pekerjaan Umum masih mengalokasikan anggaran untuk penanganan Kali Bekasi, termasuk pengamanan tebing sungai menggunakan metode sheet pile yang dinilai lebih kuat dibanding bronjong.

Seiring hujan yang berhenti, Tri menyebut kondisi banjir mulai berangsur surut. Namun, sejumlah warga di sepanjang DAS seperti Kali Lengkak masih harus mengungsi. Pemerintah Kota Bekasi tetap menyiagakan sekitar 300 unit pompa air. Saat ini, empat unit pompa dioperasikan ditambah satu pompa mobile milik BBWS, dengan total kapasitas sekitar 18.000 meter kubik per detik.

Selain pompa, Pemkot Bekasi juga mengembangkan sumur resapan dalam di wilayah cekungan kota. Sumur yang telah dibangun mencapai kedalaman 40 meter dan direncanakan hingga 60 meter. Uji coba di Jatiasih dan Bekasi Jaya disebut cukup efektif dan akan diperluas, termasuk ke kawasan sekolah. Polder juga tetap menjadi bagian dari strategi pengendalian banjir, meski diakui belum mampu sepenuhnya menahan debit air ekstrem.

Agus Hendratno, pakar geologi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Foto: Kaerul Umam

Di balik hujan dan kiriman air dari hulu, para ahli mengingatkan bahwa banjir Bekasi tak bisa dilepaskan dari karakter alamiahnya. Geolog Universitas Gajah Mada (UGM) Agus Hendratno menjelaskan, kawasan Bekasi yang pada masa kolonial dikenal sebagai Bacassie, terbentuk dari endapan rawa sungai dan dataran banjir sejak era Kuarter, sekitar 500 ribu tahun lalu.

“Rekaman sketsa topografi kolonial menunjukkan Bacassie diapit banyak sungai dan terbentuk dari endapan rawa serta banjir sungai yang berulang,” tulis Agus. Kondisi ini membuat Bekasi secara alamiah memiliki risiko banjir tinggi, yang kini diperparah oleh kepadatan kawasan urban modern.

Agus menyoroti perubahan fungsi bantaran sungai menjadi kawasan permukiman, serta pengelolaan sungai yang lebih mengandalkan tanggul tanpa pengerukan sedimen dasar. Akibatnya, dasar sungai semakin meninggi dan mendekati permukaan kota. Perubahan lahan di DAS hulu dan erosi tanah vulkanik juga menambah beban sedimen ke wilayah hilir.

Ia mengingatkan, jika penurunan muka tanah di wilayah pantura Jawa terus terjadi, risiko banjir di Bekasi dan sekitarnya berpotensi semakin meluas.

“Restorasi sungai perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya membangun tanggul, tetapi juga mengelola sedimentasi dan memulihkan fungsi ekologis sungai,” katanya.

Bagi Bekasi, banjir bukan sekadar peristiwa cuaca, melainkan pertemuan antara hujan, kiriman air, dan sejarah panjang sebuah kota yang tumbuh di atas rawa.

***

Ahmad Supardi, SustainergyID

Tinggalkan komentar

Sedang Tren