
Hampir sepekan pada pertengahan Januari 2026 ini, kabut pekat menyelimuti Rantau Dedap, Muara Enim. Di lereng Pegunungan Bukit Barisan, hamparan hijau nyaris lenyap dari pandangan. Pepohonan rapat menutup lembah, menyimpan kisah tentang satwa, sumber air, dan manusia yang sejak lama hidup berdampingan dengannya.
Di kejauhan, suara mesin terdengar pelan. Bukan deru yang memekakkan, melainkan dengung konstan yang menyatu dengan alam. Uap panas mengepul dari fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Rantau Dedap yang dikelola PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD).
Uap itu naik, mengembang, lalu larut di antara tajuk pohon. Di pucuk kanopi, sekelompok burung melintas rendah, hinggap sejenak, lalu terbang lagi. Mereka tampak tak terusik.
Bagi warga Semende, pemandangan ini bukan hal luar biasa. Tapi bagi sebuah proyek energi yang berdiri di jantung lanskap berhutan, kehadiran satwa liar adalah penanda penting: hutan ini masih hidup.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana sebuah proyek energi terbarukan hidup berdampingan dengan keanekaragaman hayati yang telah ada jauh sebelum sumur pertama dibor?
Baca: Panel Surya di Pulau Semambu: Panen Terjaga, Api Reda

Pagi di Kebun Kopi Husni
Husni sudah berada di kebun sejak pagi. Kabut masih menggantung rendah, membasahi daun kopi dan rumput liar di ladang. Kebunnya berada di Dusun Rantau Dedap, Desa Segamit, Kecamatan Semende Darat Ulu, berbatasan langsung dengan hutan lindung. Tak ada pagar beton, tak ada patok besi. Batas itu hanya dikenali lewat kebiasaan dan ingatan bersama.
“Kalau lewat sana, itu sudah wilayah hutan,” katanya sambil menunjuk ke arah rimbun pepohonan.
“Dan di hutan itu ada puyang.”
Puyang adalah sebutan masyarakat Semende untuk harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae). Kata itu diucapkan dengan nada hormat, hampir berbisik. Bagi Husni, menyebut harimau bukan sekadar menyebut satwa liar, melainkan mengakui keberadaan makhluk lain yang sama-sama punya hak hidup.
Di kebun kopi seluas tak sampai dua hektare itu, Husni masih kerap menemukan tanda-tanda kehidupan liar. Misalnya kotoran luwak (Paradoxurus hermaphroditus). Masuk hutan sedikit, jejak beruang madu (Helarctos malayanus) tercetak samar di tanah basah.
Jika masuk lebih jauh ke dalam hutan, kotoran kambing hutan sumatra (Capricornis sumatraensis) kadang terlihat di jalur setapak. Pada pagi tertentu, suara siamang (Symphalangus syndactylus) bersahut-sahutan dari balik kabut.
“Kalau sudah bunyi siamang, itu tanda hutan masih ada,” ujarnya.
Masyarakat Semende hidup dengan prinsip mengalah pada hutan. Jika bertemu satwa liar, mereka menyingkir. Jika hasil kebun berkurang, mereka menerima. Nilai ini diwariskan lintas generasi, jauh sebelum istilah konservasi populer.
Baca: Kisah Evakuasi Harimau Sumatera Bernama Enim

Ketika Puyang Turun ke Desa
Namun, penghormatan pada hutan pernah diuji keras. Akhir 2019, kawasan Semende, Muara Enim, Lahat, hingga Pagar Alam diliputi kecemasan. Dalam kurun waktu berdekatan, tujuh petani tewas diterkam harimau Sumatera. Lokasi kejadian tersebar di desa-desa penyangga hutan lindung bentang Bukit Barisan, dari Hutan Lindung Bukit Nanti, menyambung ke Bukit Jambul Gunung Patah, Makakau, hingga Suaka Margasatwa Isau-Isau.
Bagi warga, itu masa yang berat. Aktivitas ke kebun dibatasi. Anak-anak dilarang pergi sendiri. Malam-malam dilalui dengan berjaga.
“Kami takut, tapi juga bingung,” kata Husni.
“Ini kampung kami, tapi ini juga jalur harimau.”
Pada Januari 2020, seekor harimau jantan berusia sekitar tiga tahun berhasil ditangkap di Desa Plakat, Semende Darat Ulu. Harimau itu kemudian dievakuasi ke Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung, dan diberi nama Enim. Penangkapan itu meredakan ketegangan, tapi meninggalkan pertanyaan besar: mengapa konflik ini terjadi?
Sejumlah peneliti menilai konflik manusia–harimau di Sumatera hampir selalu berakar pada perubahan lanskap. Jalur jelajah terpotong, mangsa berkurang, hutan terfragmentasi. Harimau tidak tiba-tiba “menyimpang”; ia hanya mencari ruang hidup.
Peristiwa 2019 menjadi ingatan kolektif warga Semende. Sejak itu, kesadaran menjaga hutan justru menguat.
“Kalau hutan rusak, yang pertama kena ya kami,” ujar Husni.
Baca: Hutan Bengkulu yang Kian Tersayat

Energi Bersih di Lanskap Bernilai Tinggi
Di tengah lanskap rapuh itulah PLTP Rantau Dedap beroperasi. SERD mengoperasikan PLTP dengan kapasitas 91,2 MW yang mulai beroperasi (COD) pada Desember 2021. Total lahan yang digunakan, termasuk lokasi pembangkit, sumur (well pad), jalur pipa, dan jalan, mencapai 124,5 hektar. Dari total luas tersebut, sekitar 115 hektar merupakan kawasan hutan lindung.
Secara administratif, proyek ini berada sekitar 225 kilometer dari Palembang, mencakup wilayah Kabupaten Muara Enim, Lahat, dan Kota Pagar Alam. Wilayah kerjanya berada pada ketinggian 1.000–2.600 meter di atas permukaan laut, sebagian masuk kawasan Hutan Lindung Bukit Jambul–Gunung Patah.
Secara hidrologis, lokasi PLTP Rantau Dedap berdekatan dengan beberapa badan air penting. Sungai Endikat Kanan berada sekitar dua kilometer di arah barat laut, sementara Sungai Asahan dan Sungai Cawang Tengah terletak sekitar satu kilometer di arah selatan dari batas proyek.
Ekosistem di lokasi kegiatan didominasi oleh hutan pegunungan dan perkebunan kopi. Pada ketinggian 1.000–2.000 meter dpl berkembang hutan pegunungan bawah hingga hutan montana, dengan kebun kopi sebagai ekosistem antropogenik yang paling luas, diselingi perkebunan campuran dan monokultur.
Pada elevasi sekitar 1.700 meter dpl, vegetasi pohon berdiameter besar didominasi puspa (Schima wallichii), pasang (Quercus sp.), medang (Litsea sp.), dan kebe elang (Aglaia sp.). Strata semak tersusun atas Syzygium sp., Caryota mitis, dan Lasianthus sp., dengan spesies sekunder pegunungan seperti Litsea cubeba cukup dominan. Kelompok palem dan rotan relatif jarang, sementara epifit seperti Vaccinium varingiaefolium dan edelweiss (Anaphalis longifolia) umum dijumpai.
Pada ketinggian sekitar 2.000 meter dpl, flora khas montana seperti lengkedai (Dacrycarpus imbricatus) dan cemara Sumatra (Taxus sumatranus) ditemukan cukup melimpah. Hutan montana dicirikan oleh akar pohon berlumut, dengan komposisi utama Taxus dan Dacrycarpus, serta jenis lain seperti Weinmannia, Liquidambar, Cinnamomum, dan Syzygium. Vegetasi liana relatif jarang, menandakan kondisi hutan yang masih baik.
Hutan pegunungan bawah sekunder umumnya berbatasan langsung dengan kebun kopi masyarakat.
Dari catatan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) PT SERD, flora di wilayah ini tercatat sedikitnya 34 spesies dari 24 famili, termasuk empat spesies anggrek dilindungi.
Studi fauna darat mencatat 22 spesies mamalia, 12 di antaranya berstatus dilindungi. Mamalia besar seperti beruang madu, tapir (Tapirus indicus), kamera jebak juga merekam ajag (Cuon alpinus), trenggiling (Pholidota), kambing hutan sumatra, harimau Sumater, hingga luwak memiliki sebaran luas.
Survei herpetofauna mencatat sembilan spesies amfibi dan delapan reptil, terutama di sekitar sungai dan badan air. Studi avifauna merekam 61 spesies burung dari 28 famili, termasuk spesies endemik Sumatra, elang bandol laut (Haliaeetus leucogaster) dan burung lokal nomaden, burung punai (Treron exyurus) terutama di kawasan hutan pegunungan dan sekitar danau.
Primata seperti siamang dan simpai masih menghuni tepi hutan yang berbatasan dengan kebun kopi. Menandakan kawasan ini bagian dari wilayah jelajah pentingnya.
“Kalau bicara biodiversitas di sini, kita bicara sistem hidup,” kata Nafril Yusen, ahli biodiversity PT SERD.
“Ini bukan daftar spesies, tapi relasi antara hutan, air, satwa, dan manusia.”
Baca: Belida, Sungai, dan Kolam Harapan di Sungai Gerong

Menghindari, Meminimalkan, Memulihkan
Ruswanto, Plant Manager PT SERD, tidak menampik bahwa pembangunan PLTP membawa perubahan fisik. Jalan akses, sumur panas bumi, dan jaringan pipa membutuhkan ruang.
“Kami sadar, proyek ini tidak mungkin tanpa jejak,” katanya.
Sejak awal, perusahaan mengklaim menggunakan pendekatan avoid–minimize–restore. Area bernilai konservasi tinggi dihindari, bukaan lahan dipersempit, dan lahan terdampak direhabilitasi. Desain jalan mengikuti kontur, area kerja dibatasi ketat.
“Kalau hanya patuh dokumen, itu mudah,” ujar Ruswanto.
“Tantangannya justru di lapangan.”
Sebagai pemegang Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan, PT SERD berkewajiban merehabilitasi lahan terdampak. Total area rehabilitasi direncanakan mencapai 87,46 hektare. Hingga pertengahan 2025, sekitar 56,5 hektare telah diserahkan kembali ke negara setelah evaluasi. 31 hektar lainnya sudah direhabilitasi, namun belum diserahkan karena belum cukup umur masa tanam untuk diserahkan.
Di persemaian, bibit puspa, medang, pasang, dan jenis lokal lain tumbuh berlapis. Tanaman penaung dan penyedia pakan satwa ikut ditanam.
“Kami menanam dengan tanaman asli sini, bahkan sebagian endemik,” ujar Hendra, ahli biodiversity lainnya.
“Kami menanam struktur hutan.”
Perusahaan mengklaim tingkat keberhasilan tumbuh mencapai 97 persen pada tahun ketiga. Bagi akademisi, angka ini penting, tapi belum cukup.
Baca: Bentang Alam Seblat, Rumah yang Kembali untuk Gajah Sumatera – Bagian 1

Jembatan Monyet di Atas Aspal
Menjelang sore, lalu lintas kendaraan proyek meningkat di jalan internal PLTP. Di atas aspal itu, sebuah struktur tali dan rangka besi membentang, namanya arboreal bridge, sering juga disebut jembatan monyet. Enam jembatan itu dibangun untuk menghubungkan fragmen hutan yang terpisah.
Di bawahnya, manusia bergerak cepat. Di atasnya, jalur aman bagi siamang dan simpai.
“Fragmentasi itu musuh utama primata,” kata Hendra.
Penggunaan jembatan masih dimonitor internal. Tim biodiversity PT SERD juga menjelaskan, bahwa ke depan mereka tidak menutup kemungkinan untuk membuat jalan terowongan, supaya hewan kaki empat dalam hutan bisa lewat dengan leluasa.
“Jembatan atau terowongan nanti, menjadi upaya mengurangi luka lanskap.”
Baca: Kambing Hutan Sumatera, Si Penikmat Sepi di Bukit Barisan

Menjaga Alam Mulai dari Sekolah
Di SD Negeri 14 Rantau Dedap, Kepala Sekolah Zul Fikri rutin mengingatkan murid-muridnya bahwa kampung tempat mereka tumbuh adalah rumah bagi beragam flora dan fauna. Pesan itu disampaikan berulang, agar anak-anak tak sekadar belajar di ruang kelas, tetapi juga mengenali alam yang mengelilingi mereka.
“Kalau anak-anak tidak kenal hutannya, mereka tak akan menjaganya,” katanya.
Edukasi lingkungan pun menjadi bagian dari keseharian sekolah. Penanaman pohon, pengenalan satwa, serta cerita tentang hutan dan sumber air disisipkan dalam proses belajar, menanamkan kesadaran bahwa alam bukan sesuatu yang jauh, melainkan bagian dari hidup mereka sendiri.
Upaya menjaga keanekaragaman hayati juga berlangsung di kebun-kebun warga. Profesor Muhamad Yamin, Guru Besar Pertanian Berkelanjutan Universitas Sriwijaya, menilai pendekatan agroforestri di kebun kopi sebagai benteng penting bagi kelestarian lingkungan. Petani didorong untuk mempertahankan pohon penaung dan meningkatkan produktivitas kebun tanpa membuka hutan baru.
“Kalau kebun warga produktif, mereka tidak masuk hutan,” katanya.
Rantau Dedap bukan ruang kosong yang steril dari perubahan. Aktivitas manusia terus menggerus ruang, sementara kebutuhan hidup kian menekan alam di sekitarnya. Namun kawasan ini juga tidak bisa disederhanakan sebagai kisah kehancuran semata. Di tengah operasi perusahaan panas bumi, sekolah, kebun warga, dan sisa hutan yang terfragmentasi, upaya menjaga biodiversitas harus tetap berlangsung
***
Ahmad Supardi, SustainergyID





Tinggalkan komentar