
Di tengah meningkatnya frekuensi banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah Indonesia, Nature Based Solution (NbS) kian menguat sebagai pendekatan ilmiah dalam mitigasi bencana keairan. Strategi ini menempatkan fungsi alami ekosistem tanah, vegetasi, dan tata air sebagai bagian penting dari upaya pengurangan risiko bencana berbasis sains.
Pendekatan tersebut dibahas dalam Seri Webinar Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) BRIN ke-13 bertajuk Nature Based Solution sebagai Strategi Mitigasi Bencana Keairan (Perspektif Hidropedologi) yang digelar Jumat (19/12).
Kepala PRLSDA-BRIN Luki Subehi menjelaskan, meningkatnya bencana keairan tidak bisa dilepaskan dari kombinasi faktor iklim dan meteorologi, serta perubahan tutupan dan fungsi lahan. Banjir bandang dan longsor yang berulang di berbagai daerah, menurutnya, mencerminkan proses degradasi ekosistem yang terjadi dalam jangka panjang.
“Ini memperlihatkan adanya gangguan keseimbangan tanah dan air, serta menurunnya fungsi ekosistem dalam mengatur aliran air,” ujar Luki.
Ia menilai, pendekatan mitigasi yang selama ini bertumpu pada solusi strukturaL, seperti tanggul atau betonisasi, tidak lagi cukup. Strategi berbasis alam dinilai lebih relevan karena bekerja sejalan dengan karakter lingkungan setempat.
“Pendekatan mitigasi perlu diarahkan pada solusi berbasis alam yang sesuai dengan karakter wilayah,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Ahli Utama PRLSDA-BRIN Asep Mulyono memaparkan bahwa hingga awal November 2025, banjir masih menjadi bencana paling sering terjadi di Indonesia, disusul tanah longsor. Fakta ini menunjukkan bahwa bencana keairan bukan semata dipicu hujan ekstrem, tetapi juga oleh topografi dan degradasi ekosistem.
“Bencana alam tidak bisa dihindari, tetapi campur tangan manusia sangat menentukan skala kerusakan yang ditimbulkan,” kata Asep.
Ia menjelaskan, hilangnya tutupan hutan meningkatkan limpasan permukaan, memicu erosi dan sedimentasi sungai, serta memperparah banjir dan longsor. Di sinilah pendekatan hidropedologi, ilmu yang mempelajari interaksi tanah dan air menjadi kunci.
“Vegetasi berperan menurunkan limpasan permukaan, meningkatkan infiltrasi, dan memperkuat stabilitas tanah, terutama di wilayah lereng,” ujarnya.
Asep menegaskan, Nature Based Solution bukan sekadar penanaman pohon. Pendekatan ini menuntut pengelolaan ekosistem yang berbasis bukti ilmiah dan disesuaikan dengan kondisi wilayah.
“Nature Based Solution bukan sekadar menanam pohon, tetapi bagaimana ekosistem dikelola berdasarkan sains,” katanya.
Ia mendorong penerapan aforestasi di lahan-lahan marginal dan reforestasi di kawasan hutan rusak, sekaligus memperkuat perlindungan hutan lindung dan kawasan konservasi. Keberhasilan strategi ini, menurut Asep, sangat ditentukan oleh kesesuaian jenis tanaman dengan zona agroekologi, termasuk pengaturan jarak tanam dan tingkat transpirasi.
“Tidak semua pohon bisa ditanam di semua tempat. Jenis, jarak tanam, dan tingkat transpirasi harus disesuaikan dengan tujuan dan kondisi wilayahnya,” ujarnya.
Selain aspek teknis, Asep juga menyoroti pentingnya waktu tanam dan perawatan pascatanam. Penanaman setelah musim hujan dinilai lebih efektif untuk meningkatkan tingkat keberhasilan tumbuh tanaman.
“Tanpa perawatan dan pengawasan yang konsisten, fungsi mitigasi dari penanaman pohon tidak akan tercapai,” katanya.
Sementara itu, Senior Lecturer Faculty of Sustainable Agriculture Universiti Malaysia Sabah, Muhamad Askari, menekankan bahwa Nature Based Solution harus diterapkan dalam kerangka pengelolaan lanskap dari hulu hingga hilir. Menurutnya, air tidak mengalir langsung ke sungai, tetapi melewati kanopi, lantai hutan, dan sistem perakaran.
“Pendekatannya harus berbasis zonasi. Apa yang ditanam di hulu, tengah, dan hilir harus berbeda, sesuai fungsi hidrologi dan risikonya,” ujar Askari.
Ia menilai agroforestri dan praktik pertanian yang baik dapat menjadi solusi antara di wilayah yang telah mengalami perubahan fungsi lahan. Sistem campuran ini dinilai lebih efektif menekan limpasan permukaan, mengurangi erosi, dan meningkatkan stabilitas tanah dibandingkan sistem monokultur.
“Pengelolaan pertanian yang tepat dapat berkontribusi nyata dalam menurunkan risiko bencana keairan,” katanya.
Melalui forum ini, BRIN menegaskan perannya dalam menyediakan dasar ilmiah bagi penguatan mitigasi bencana keairan di Indonesia. Pendekatan Nature Based Solution berbasis hidropedologi dipandang sebagai strategi yang kontekstual untuk memperkuat ketahanan ekosistem dan masyarakat di tengah meningkatnya bencana hidrometeorologi.
***
Ahmad Supardi, SustainergyID





Tinggalkan komentar