
Di sepanjang pesisir selatan Jawa, dari Kebumen hingga Purworejo, berdiri benteng alam yang bekerja tanpa henti selama ribuan tahun: punggungan pasir setinggi belasan meter yang memisahkan garis pantai dari permukiman warga. Namun struktur geologi yang berfungsi sebagai pelindung alami tsunami itu kini perlahan terkikis oleh penambangan pasir yang makin meluas.
Dalam wawancara awal November lalu, Periset Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Eko Yulianto, mengingatkan bahwa punggungan pasir ini bukan sekadar gundukan pasir biasa, tetapi formasi purba yang terbentuk sekitar enam ribu tahun lalu ketika permukaan laut lebih tinggi tiga hingga lima meter dibanding sekarang.
“Benteng alam ini terbentuk lewat proses geologi ribuan tahun, dan fungsinya sangat penting bagi keselamatan warga pesisir. Jika punggungan pasir ini rusak, kita kehilangan perlindungan paling dasar dari tsunami,” kata Eko.
Hasil riset BRIN yang didukung program pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) BRIN 2025 menunjukkan punggungan ini merupakan bagian dari Teras Laut Holosen Maksimum (TLHM). Struktur itu membentang sekitar 40 kilometer, dengan ketinggian rata-rata 6–13 meter.
Di Kebumen hingga Purworejo, jaraknya hanya 400–500 meter dari garis pantai, sementara di Cilacap melebar hingga delapan kilometer.
Perbedaan ketinggian dan jarak ini membuat tingkat kerentanan tsunami di setiap wilayah berbeda. Permukiman di Kebumen dan Purworejo yang berdiri di atas punggungan lebih dari sembilan meter relatif lebih aman dari tsunami berskala menengah. Sebaliknya, Cilacap berada di dataran rendah; nol hingga empat meter di atas permukaan laut yang langsung berbatasan dengan pantai modern.
“Secara morfologi, Cilacap jauh lebih rawan dibanding Kebumen karena datarannya lebih rendah dan lebih dekat ke laut,” ujar Eko.

Kajian kebumian menunjukkan zona megathrust di selatan Jawa–Nusa Tenggara mampu memicu gempa besar hingga magnitudo 9,6 dengan siklus berulang sekitar 675 tahun. Gempa sebesar ini berpotensi menimbulkan tsunami besar yang bisa menyapu daratan hingga beberapa kilometer.
“Dalam skenario seperti itu, benteng alami berupa punggungan pasir berperan sangat penting untuk memperlambat dan mengurangi kekuatan gelombang sebelum mencapai kawasan penduduk,” jelasnya.
Namun benteng yang diberikan alam ini justru terancam hilang. Penambangan pasir yang tidak terkendali perlahan menggerus struktur yang terbentuk gratis oleh proses geologi ribuan tahun.
Jika Indonesia harus membangun tembok laut buatan seperti Jepang pasca-tsunami 2011, setinggi 12–15 meter sepanjang hampir 400 kilometer, biayanya bisa menembus 138 triliun rupiah. Nilai itu setara 14 kali anggaran BNPB tahun 2025.
“Ironinya, kita justru mengikis perlindungan alami yang tak ternilai hanya untuk kepentingan sesaat,” kata Eko.
“Menghancurkan punggungan pasir sama saja dengan melepas pelindung terakhir masyarakat dari ancaman tsunami. Ini bukan hanya soal geologi, tapi soal kemanusiaan.”
Benteng pasir di selatan Jawa adalah bukti bagaimana alam merancang perlindungan bagi manusia. Ia terbentuk perlahan selama ribuan tahun, tetapi bisa hilang dalam satu dekade jika tidak dijaga.
***
Ahmad Supardi, SustainergyID





Tinggalkan komentar