
Setiap kali melewati kawasan Cangking Indah di Desa Gedang, Sungai Penuh, Jambi, hati Reko Delfianto selalu terusik. Lahan seluas puluhan hektare itu terbentang gersang, ditumbuhi semak belukar, sebagian dipenuhi sampah. Padahal, dulu tanah ini adalah sawah yang memberi makan banyak keluarga. “Sayang saja lahan seluas itu tak ada manfaat bagi masyarakat,” keluh Reko, 60 tahun, suatu siang di penghujung panen.
Sejak gempa besar Gunung Kerinci pada 1980, sawah di Cangking Indah berubah nasib. Tanahnya mengeras, air menghilang. Petani mulai meninggalkan lahan, lalu benar-benar ditelantarkan setelah gempa Jambi pada 1995. Selama dua dekade, kawasan itu jadi lahan tidur, seolah tak punya harapan untuk dihidupkan kembali.
Bagi sebagian orang, lahan itu hanyalah beban. Tapi tidak bagi Reko. Anak petani kelahiran 26 Desember 1964 itu merasa tak rela tanah warisan leluhur Kerinci dibiarkan kosong. Ia berulang kali mencoba mengajak warga sekitar membuka kembali sawah, tapi ajakannya tak digubris. “Mereka bilang terlalu banyak biaya, tanahnya sudah tak subur,” kenang Reko.
Tahun 2004, ia memutuskan bergerak sendiri. Berbekal cangkul dan tekad, Reko mulai menggali parit. Dua tahun lamanya ia bekerja siang-malam, ditemani keponakan dan saudara dekatnya. Sedikit demi sedikit, aliran air Sungai Batang Air Baru diarahkan menuju lahan yang dianggap mati itu. Kini, parit yang ia gali membentang sepanjang empat kilometer. “Tekad saya bulat, membuat air sungai mengalir ke lahan yang dianggap tak produktif itu,” katanya.

Kerja keras itu akhirnya terbayar. Air mulai mengisi petak-petak kering, tanah kembali lembap, dan padi pertama berhasil dipanen pada 2005. Panen perdana itu menjadi titik balik. Petani yang semula ragu, perlahan ikut turun tangan. Bahkan seorang kepala dinas turut membuka lahan di sana. “Saya senang akhirnya banyak petani yang menggarap lahan yang dulu dianggap tak ada harapan itu,” ujar Reko. Kini total sawah yang dihidupkan kembali di Cangking Indah mencapai 41,5 hektare.
Keteguhan Reko tak lepas dari didikan sang nenek, Izani, yang menempanya sejak kecil agar tak cengeng menghadapi kerja keras. Sejak kelas tiga sekolah dasar, Reko sudah terbiasa memikul karung padi dan mencangkul di sawah. “Kerja berat bagi saya sudah biasa, sejak kecil memang ditempa begitu,” katanya.
Kini, Cangking Indah bukan hanya menjadi lumbung padi baru bagi Kecamatan Sungai Penuh, dengan produksi rata-rata satu ton padi per hektare, tetapi juga berkembang menjadi sentra peternakan. Reko mendorong masyarakat menanam pohon di sekitar daerah aliran sungai, menjaga Sungai Batang Air Baru dari sampah, sekaligus memulai beternak kerbau untuk menambah penghasilan. “Sekarang saya bisa mengajak mereka gotong royong memperbaiki parit dan membersihkan sungai,” ujarnya.
Atas dedikasi itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menganugerahkan Penghargaan Kalpataru 2021 kepada Reko Delfianto dalam kategori Perintis Lingkungan.
Baginya, penghargaan hanyalah bonus. Yang utama adalah melihat lahan mati kembali hidup, memberi nafkah untuk banyak keluarga. “Saya merasa hidup ini sangat berarti ketika bisa bermanfaat untuk orang banyak,” tutur Reko, sembari menatap hamparan padi yang bergoyang di bawah kaki Gunung Kerinci.
***
Ahmad Supardi, SustainergyID.
Tulisan ini juga terbit di PejuangIklim dengan judul: Reko, Menyulap Lahan Tidur jadi Lumbung Padi






Tinggalkan komentar