
Sore itu, di sebuah ruang perawatan darurat Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Lampung, seekor harimau sumatera jantan terbaring lemah. Kaki depannya dibalut kain putih tebal, bekas operasi panjang yang baru selesai beberapa jam sebelumnya. Bau obat bercampur dengan aroma luka yang masih segar.
Harimau itu baru saja kehilangan empat jarinya, diamputasi untuk mencegah infeksi yang sudah menjalar akibat jerat kawat seling di hutan.
“Operasi berlangsung lebih dari empat jam. Kami tak punya pilihan selain amputasi,” kata Erni Suyanti, dokter hewan yang memimpin tindakan, Jumat malam, 5 Juli 2019.
Harimau malang itu ditemukan tim patroli Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP) pada 2 Juli. Saat ditemukan, raungannya masih keras. Kaki depannya membusuk, sementara bagian perutnya robek, menandakan betapa kuat jeratan kawat menghimpit tubuhnya.
Tim tak berani mendekat.
“Harimau masih agresif. Kami khawatir dia panik, lukanya semakin parah,” kata Taufik Hidayat, ketua tim survei.
Keesokan harinya, Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) datang dengan bius dan kandang angkut. Setelah berhasil diamankan, satwa itu dibawa ke Lembah Hijau untuk mendapat perawatan intensif.
Dua hari kemudian, keputusan berat diambil: amputasi. Tanpa itu, infeksi bisa merenggut nyawanya.

Luka yang Lebih Dalam
Kasus ini bukan peristiwa tunggal. Data patroli SMART TNBBS dan WCS mencatat, sejak 2003 hingga 2018, ditemukan 320 jerat di kawasan taman nasional. Dari jerat burung, jala kabut, hingga kawat seling yang mematikan.
“Ancaman terhadap harimau sumatera nyata dan serius,” kata Agus Wahyudiyono, Kepala Balai Besar TNBBS.
“Kami akan memperkuat patroli, sekaligus memburu pemburu dan jaringannya.”
Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) kini menyandang status kritis atau critically endangered. Dua kerabat dekatnya, harimau bali dan harimau jawa, sudah lama punah. Jika jerat, perburuan, dan penyempitan habitat tak segera dihentikan, harimau sumatera hanya tinggal nama dalam buku sejarah.
Firdaus, Landscape Manager WCS-IP Bukit Barisan, mengurai akar masalahnya: habitat yang terus menyempit. Hutan dialihfungsikan jadi perkebunan sawit, tambang batubara, hingga ladang masyarakat. Satwa mangsa rusa, babi hutan, kijang diburu. Harimau kehilangan rumah sekaligus sumber makanan.
“Kalau mangsa di hutan habis, harimau turun ke desa mencari ternak. Konflik pun terjadi. Akhirnya, mereka diburu,” katanya.
Kepala BKSDA Bengkulu–Lampung, Donal Hutasoit, menambahkan, tim penyelamat memang harus bergerak cepat.
“Setiap menit menentukan hidup-mati satwa ini.”
Kini, harimau jantan yang diamputasi itu masih menjalani pemulihan di Lembah Hijau, menunggu waktu cukup kuat untuk kembali ke habitatnya.

Pertaruhan Terakhir
Noviar Andayani, Country Director WCS-IP, menegaskan, survei dan patroli rutin adalah benteng terakhir.
“Tanpa itu, jerat-jerat akan terus dipasang. Kita bisa kehilangan harimau sumatera dalam hitungan dekade.”
Bagi para pegiat konservasi, kisah harimau dengan kaki buntung ini adalah alarm keras. Ia bukan hanya korban jerat kawat, melainkan korban dari kerakusan manusia, dari hutan yang ditebang, dari tanah yang terus dikapling.
Dan luka di kakinya hanyalah cermin dari luka yang lebih besar: luka hutan Sumatera yang terus digerogoti.
***
Ahmad Supardi, SustainergyID.
Tulisan ini juga diterbitkan di Mongabay Indonesia dengan judul Membusuk Akibat Jerat Pemburu, Kaki Harimau Sumatera Ini Diamputasi





Tinggalkan komentar